Habib Musthofa abdullah Al-aiydrus
Selamat Datang Di website Kami
مجلس ذكر راتب واسماء الحسنى شمس الشّموس

Langkah Awal Mendekatkan Diri Kepada Allah

Posted by MAJELIS DZIKIR ASMAUL HUSNA RHOTIB SYAMSI SYUMUS KUDUS On Categories:

Orang yang cerdas dan berpikiran sehat adalah mereka yang mengelola (me-manage) amal-amalnya sehingga semua kegiatan mereka menjadi sempurna.

Langkah awal yang harus diperhatikan oleh seorang hamba dalam ber-suluk adalah menyucikan dan mendidik nafs serta menyempurnakan akhlak. Bagi
seorang sâlik usaha penyucian nafs lebih utama dari pada memperbanyak ibadah sunah, seperti salat sunah, puasa sunah dan sejenisnya. Karena,
seorang hamba tidak layak menghadap Allah SWT dengan hati dan nafs yang kotor. Ia hanya akan melelahkan dirinya, sebab amal yang ia kerjakan
mungkin justru membawanya ke arah kemunduran.

Jika seseorang tidak menangani urusannya secara arif, maka dikhawatirkan ia akan tersesat dan mengalami kemunduran. Karena itu seseorang hendaknya selalu memelihara sir-nya (nurani) dan memanfaatkan waktu yang ia miliki. Jangan sekali-kali ia membiarkan hatinya kosong dari fikr (pemikiran) yang dapat melahirkan ilmu. Dan jangan sampai ia mengerjakan suatu perbuatan tanpa niat yang benar, karena niat adalah ruh amal.

Jika hati seseorang tidak mampu mewadahi fikr (pemikiran) yang dapat melahirkan ilmu dan niat-niat saleh, maka ia seperti hewan liar. Dalam keadaan demikian manusia akan terbiasa menghabiskan waktunya untuk melakukan perbuatan yang sia-sia dan bergaul dengan orang-orang bodoh. Ia akan melakukan berbagai perbuatan buruk dan tercela. Seorang yang berakal hendaknya sadar dan memelihara hatinya.

Ketahuilah, keadaan hati yang paling mulia adalah ketika ia selalu berhubungan dengan Allah SWT. Inilah landasan amal dan sumber perbuatan-perbuatan yang baik. Cara memakmurkan batin adalah dengan selalu
menghubungkan sir (nurani) dengan Allah SWT, sedangkan cara merusaknya adalah dengan selalu melalaikan-Nya. Jika hati seseorang telah memiliki
hubungan yang kuat dengan Allah SWT, ia dengan mudah dapat melakukan berbagai amal dan ketaatan yang bisa mendekatkannya kepada Allah.

Ketahuilah, bahwa hati itu bagaikan cermin, memantulkan bayangan dari semua yang ada di hadapannya. Karena itu manusia harus menjaga hatinya, sebagaimana ia menjaga kedua bola matanya.

Orang yang mengkhususkan diri untuk beribadah kepada Allah hendaknya tidak bergaul dengan orang-orang yang jahat, bodoh dan suka berbuat tercela, sebab perilaku mereka akan mempengaruhi hati dan memadamkan cahaya bashiroh-nya.

Seorang pencari kebenaran hendaknya memperhatikan segala sesuatu yang dapat memperbaiki hatinya. Untuk memperbaiki hati diperlukan beberapa
metode, di antaranya adalah dengan selalu mengolah fikr (pemikiran) untuk membuahkan hikmah dan asror, banyak berdzikir dengan hati dan lisan, dan juga dengan menjaga penampilan lahiriah: pakaian, makanan, ucapan, serta semua perilaku lahiriah yang memberikan pengaruh nyata bagi hati. Seorang
pencari kebenaran tidak sepantasnya mengabaikan hal ikhwal hatinya.

Langkah Awal Mendekatkan Diri Kepada Allah

Posted by MAJELIS DZIKIR ASMAUL HUSNA RHOTIB SYAMSI SYUMUS KUDUS On Categories:

Orang yang cerdas dan berpikiran sehat adalah mereka yang mengelola (me-manage) amal-amalnya sehingga semua kegiatan mereka menjadi sempurna.

Langkah awal yang harus diperhatikan oleh seorang hamba dalam ber-suluk adalah menyucikan dan mendidik nafs serta menyempurnakan akhlak. Bagi
seorang sâlik usaha penyucian nafs lebih utama dari pada memperbanyak ibadah sunah, seperti salat sunah, puasa sunah dan sejenisnya. Karena,
seorang hamba tidak layak menghadap Allah SWT dengan hati dan nafs yang kotor. Ia hanya akan melelahkan dirinya, sebab amal yang ia kerjakan
mungkin justru membawanya ke arah kemunduran.

Jika seseorang tidak menangani urusannya secara arif, maka dikhawatirkan ia akan tersesat dan mengalami kemunduran. Karena itu seseorang hendaknya selalu memelihara sir-nya (nurani) dan memanfaatkan waktu yang ia miliki. Jangan sekali-kali ia membiarkan hatinya kosong dari fikr (pemikiran) yang dapat melahirkan ilmu. Dan jangan sampai ia mengerjakan suatu perbuatan tanpa niat yang benar, karena niat adalah ruh amal.

Jika hati seseorang tidak mampu mewadahi fikr (pemikiran) yang dapat melahirkan ilmu dan niat-niat saleh, maka ia seperti hewan liar. Dalam keadaan demikian manusia akan terbiasa menghabiskan waktunya untuk melakukan perbuatan yang sia-sia dan bergaul dengan orang-orang bodoh. Ia akan melakukan berbagai perbuatan buruk dan tercela. Seorang yang berakal hendaknya sadar dan memelihara hatinya.

Ketahuilah, keadaan hati yang paling mulia adalah ketika ia selalu berhubungan dengan Allah SWT. Inilah landasan amal dan sumber perbuatan-perbuatan yang baik. Cara memakmurkan batin adalah dengan selalu
menghubungkan sir (nurani) dengan Allah SWT, sedangkan cara merusaknya adalah dengan selalu melalaikan-Nya. Jika hati seseorang telah memiliki
hubungan yang kuat dengan Allah SWT, ia dengan mudah dapat melakukan berbagai amal dan ketaatan yang bisa mendekatkannya kepada Allah.

Ketahuilah, bahwa hati itu bagaikan cermin, memantulkan bayangan dari semua yang ada di hadapannya. Karena itu manusia harus menjaga hatinya, sebagaimana ia menjaga kedua bola matanya.

Orang yang mengkhususkan diri untuk beribadah kepada Allah hendaknya tidak bergaul dengan orang-orang yang jahat, bodoh dan suka berbuat tercela, sebab perilaku mereka akan mempengaruhi hati dan memadamkan cahaya bashiroh-nya.

Seorang pencari kebenaran hendaknya memperhatikan segala sesuatu yang dapat memperbaiki hatinya. Untuk memperbaiki hati diperlukan beberapa
metode, di antaranya adalah dengan selalu mengolah fikr (pemikiran) untuk membuahkan hikmah dan asror, banyak berdzikir dengan hati dan lisan, dan juga dengan menjaga penampilan lahiriah: pakaian, makanan, ucapan, serta semua perilaku lahiriah yang memberikan pengaruh nyata bagi hati. Seorang
pencari kebenaran tidak sepantasnya mengabaikan hal ikhwal hatinya.

Niat

Posted by MAJELIS DZIKIR ASMAUL HUSNA RHOTIB SYAMSI SYUMUS KUDUS On Categories:

“Niat saleh” adalah kecenderungan dan keinginan hati untuk berbuat baik. Suara hati merupakan sumber dan penyebab pertama timbulnya niat. Niat adalah ruhnya amal, seperti ruh bagi jasad, dan hujan bagi bumi. Barang siapa yang niat dan tujuannya untuk Allah dan Rasul-Nya, maka ia memiliki niat yang saleh. Karena itulah beliau RA berkata, “carilah selalu niat-niat saleh”.

Niat ada yang saleh dan ada yang buruk. Dalam suatu amal kadang kala dapat diperoleh niat yang banyak. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya seseorang itu hanya akan mendapatkan sesuai dengan niatnya.”

Niat yang baik akan membuahkan amal yang baik,sedangkan niat yang buruk akan mengakibatkan amal yang buruk.

Allah berfirman: “Padahal mereka tidak diperintahkan melainkan supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan ibadah kepada-Nya.”
(QS Al-Bayyinah, 98:5) Yakni, dengan niat yang ikhlas untuk Allah. Niat juga merupakan salah satu sebab
untuk memperoleh taufik: Jika kedua juru pendamai itu berniat mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami istri itu (untuk berdamai).
(QS An-Nisa, 4:35)

Nabi SAW bersabda, “Barang siapa berniat melakukan kebajikan, namun ia tidak mengamalkannya, Allah akan mencatatkan kebajikan baginya.” Dan sabdanya lagi: “Mereka kelak dikumpulkan berdasarkan niat mereka.”

Imam At-Tsauri berkata, “Dahulu mereka mempelajari niat untuk beramal sebagaimana mereka mempelajari amal.”

Dan diriwayatkan dalam kitab Taurat bahwa Allah Ta’ala berfirman, “Segala sesuatu yang diniatkan untuk-Ku, maka sedikitnya adalah banyak, dan
segala sesuatu yang ditujukan kepada selain Aku, maka banyaknya adalah sedikit.”

Bilal bin Sa’ad berkata, “Sesungguhnya seorang hamba akan mengucapkan ucapan seorang mukmin, maka Allah tidak akan membiarkannya sebelum menyaksikan amalnya, jika ia mengamalkannya, maka Allah tidak akan membiarkannya sebelum menyaksikan niatnya, jika niatnya baik, Allah akan memperbaiki kelemahan amalnya.”

Niat adalah tiangnya amal, oleh karena itu amal sangat membutuhkan niat. Nabi SAW bersabda: “Niat seorang mukmin lebih baik dari pada amalnya.” Hati adalah pengawas yang ditaati dan niat adalah amal hati. Amal tanpa niat yang saleh, tidak akan bermanfaat, dan amal dengan niat yang buruk, akan mencelakakan.

Banyaknya niat tergantung pada banyaknya usaha untuk berbuat kebaikan, keluasan ilmu dan ketekunan dalam menghimpun berbagai niat yang baik. Dan banyaknya niat ini dapat menyucikan dan melipat- gandakan amal. Namun maksiat akan tetap maksiat, karena niat baik tidak akan dapat merubahnya.

Berbagai amal yang mubah, dengan niat yang benar dari seorang yang sidq, dapat menjadi sebaik-baik pendekatan diri kepada Allah. Mereka yang selalu disibukkan dengan urusan keduniaan, niat-niat saleh
tersebut tidak akan terlintas dalam benak mereka. Jika mereka mengaku memiliki suatu niat baik, ketahuilah, sesungguhnya itu hanyalah bisikan hati, bukan niat.

Saat melaksanakan atau meninggalkan suatu amal harus disertai dengan niat yang baik, karena meninggalkan suatu amal adalah amal juga. Oleh
karena itu, jangan sampai hawa nafsu yang tersembunyi menjadi penggerak suatu amal. Karena alasan inilah beberapa sufi urung melaksanakan suatu
ketaatan, karena gagal menetapkan niat yang baik.

Niat adalah fath dari Allah yang pada dasarnya tidak bisa diusahakan. Niat yang baik ini oleh Allah Ta’ala dianugerahkan kepada orang-orang yang berhati suci, memiliki ilmu yang luas dan selalu disibukkan dengan ajaran Allah, bukan orang-orang seperti kita. Kita ini tidak mudah untuk berniat baik walaupun dalam melaksanakan yang wajib, kecuali setelah berusaha dengan susah payah.

(Habib Ahmad bin Zein Al-Habsyi, Syarhul ‘Ainiyyah, Wasiat dan Nasihat, Putera Riyadi)

Al-Imam Alwi Al-Ghuyur

Posted by MAJELIS DZIKIR ASMAUL HUSNA RHOTIB SYAMSI SYUMUS KUDUS On Categories:

[Al-Imam Alwi Al-Ghuyur - Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad - Ali - Muhammad Shohib Mirbath - Ali Khali' Qasam - Alwi - Muhammad - Alwi - Ubaidillah - Ahmad Al-Muhajir - Isa Ar-Rumi - Muhammad An-Naqib - Ali Al-'Uraidhi - Ja'far Ash-Shodiq - Muhammad Al-Baqir - Ali Zainal Abidin - Husain - Fatimah Az-Zahro - Muhammad SAW]

Beliau adalah Al-Imam Alwi bin Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad bin Ali bin Muhammad Shohib Mirbath bin Ali Khali’ Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Al-Imam Al-Muhajir Ahmad bin Isa, dan terus bersambung nasabnya sampai Rasulullah SAW. Beliau dijuluki dengan Al-Ghuyur (yang cemburu), yaitu yang cemburu atas namanya. Hal ini dikarenakan tidak ada seorang pun dari keluarga Bani Alawy di jaman beliau yang bernama Alwi. Jika ada seseorang yang berniat memberi nama Alwi, pasti ia akan tercegah untuk menamakan dengan nama itu, sehingga memberikan nama lain.

Beliau dilahirkan di kota Tarim dan dibesarkan disana. Beliau dididik langsung oleh ayahnya. Beliau mengambil dari ayahnya berbagai macam ilmu dan pengetahuan. Beliau juga menempuh jalan ayahnya, baik secara syariah, thariqah maupun haqiqah. Ibu beliau adalah Hababah Zainab binti Ahmad bin Muhammad Shahib Mirbath, seorang wanita yang termasuk al-’arif billah.

Beliau adalah seorang keturunan Rasul SAW yang agung, seorang yang alim dan mengamalkan ilmunya, serta seorang ahli zuhud. Beliau adalah seorang al-’arif billah, mempunyai maqam yang tinggi dan karomah yang luar biasa. Beliau banyak mendapatkan ilmu-ilmu laduniyyah dan asrar ghaibiyyah.

Beliau jika berkata terhadap sesuatu, “Kun (jadilah),” maka sesuatu itu jadi sebagaimana yang dikehendakinya dengan ijin Allah. Banyak para ulama besar dan auliya di jamannya menukilkan ucapan beliau yang berkata, “Aku berada dalam maqam Al-Junaid.” Beliau dapat mendengar tasbih dari benda-benda mati.

Beliau bisa mengenali orang-orang yang ahli celaka dan yang ahli bahagia. Pada suatu hari ayahnya, Al-Faqih Al-Muqaddam, berkata kepada beliau pada saat beliau masih kecil, “Engkau dapat mengenali mana orang yang ahli celaka dan mana yang ahli bahagia. Maka lihatlah yang demikian itu di dahiku (aku termasuk yang mana)?.” Lalu beliau melihatnya dan mendapatkannya sebagai orang yang termasuk ahli bahagia, kemudian beliau sampaikan hal tersebut kepada ayahnya.

Suatu saat beliau berziarah ke datuknya, Rasulullah SAW, dan di sampingnya ada Abubakar dan Umar (semoga Allah meridhoi keduanya). Beliau berkata kepada datuknya SAW, “Dimanakah kedudukanku di sisimu, wahai kakek?.” Menjawab Rasulullah SAW, “Di kedua belah mataku.” Lalu Rasulullah SAW bertanya kepada beliau, “Dan dimanakah kedudukanku di sisimu, wahai Syeikh Alwi?.” Lantas beliau menjawab, “Di atas kepalaku.” Kemudian Abubakar berkata, “Bagaimana engkau menempatkan Rasulullah demikian?. Dia menempatkanmu di kedua belah matanya, sedangkan engkau menempatkannya di atas kepalamu. Tidak ada sesuatu yang dapat menyamai kedua belah mata. Engkau harus mensyukurinya dengan bersedekah kepada para fakir miskin 100 dinar.” Setelah beliau pulang, beliau pun bersedekah 100 dinar sebagai tanda syukur.

Pada saat beliau berlambat-lambat dalam menikah, berkatalah calon keturunannya dari punggungnya, “Kami telah berada di punggungmu. Cepatlah menikah. Kalau tidak, kami akan keluar dari punggungmu!.” Ketika beliau telah menikah dan istrinya mengandung, berkatalah si jabang bayi dari rahim istrinya, “Aku anak sholeh. Aku hamba Sholeh.”

Beliau, Al-Imam Alwi Al-ghuyur, seorang yang cepat memberikan pertolongan bagi siapa saja yang membutuhkan pertolongan. As-Sayyid Al-Allamah Al-Imam Muhammad bin Alwi Al-Khirid Ba’alawy berkata di dalam kitabnya Al-Ghurar, “Mengabarkan kepadaku Asy-Syeikh Abdurrahman bin Ali bahwa para al-’arif billah berkata, ‘Ada 3 orang dari keluarga Bani Alawy yang senantiasa semangatnya terpelihara. Sifatnya yang merespon pertolongan dengan cepat selalu semakin baik dan terjaga. Seorang yang meminta pertolongan kepada mereka, selalu cepat mereka bantu. Mereka adalah Alwi Al-Ghuyur, dan anaknya yaitu Ali, serta Asy-Syeikh Umar Al-Muhdhor.’ “

Ayah beliau, Al-Faqih Al-Muqaddam, memuji kepada beliau dan memberikan isyarat bahwa pada suatu saat nanti anaknya itu akan menjadi seorang wali yang agung. Banyak para ulama mengatakan bahwa sirr ayahnya pindah kepada diri beliau. Sebagian di antara mereka berkata, “Beliau pengganti dari orang-orang yang terdahulu.”

Beliau menikah dengan seorang wanita yang bernama Hababah Fatimah binti Ahmad bin Alwi bin Muhammad Shahib Mirbath. Melalui istrinya tersebut, beliau dikaruniai dua orang putra, yaitu Ali dan Abdullah. Beliau wafat pada hari Jum’at, 12 Dzulqaidah 669 H. Jasad beliau disemayamkan di pekuburan Zanbal Tarim dan diletakkan di sebelah timur dari makam ayahnya.

Radhiyallohu anhu wa ardhah…

[Disarikan dari Syarh Al-Ainiyyah, Nadzm Sayyidina Al-Habib Al-Qutub Abdullah bin Alwi Alhaddad Ba'alawy, karya Al-Allamah Al-Habib Ahmad bin Zain Alhabsyi Ba'alawy]

Al-Imam Ali Zainal Abidin Bin Ali Bin Abi Tholib

Posted by MAJELIS DZIKIR ASMAUL HUSNA RHOTIB SYAMSI SYUMUS KUDUS On Categories:


Ketika senja telah turun mengganti siang dengan malam, seorang laki-laki bergegas mengambil air wudhu. Memenuhi panggilan adzan yang bergaung indah memenuhi angkasa. “Allahu Akbar!” suara lelaki itu mengawali shalatnya.
Khusyuk sekali ia melaksanakan ibadah kepada Allah. Tampak kerutan di keningnya bekas-bekas sujud. Dalam sujudnya, ia tenggelam bersama untaian-untaian do’a. Seusai shalat, lama ia duduk bersimpuh di atas sajadahnya. Ia terpaku dengan air mata mengalir, memohon ampunan Allah.

Dan bila malam sudah naik ke puncaknya, laki-laki itu baru beranjak dari sajadahnya. “Rupanya malam sudah larut…,”bisiknya. Ali Zainal Abidin, lelaki ahli ibadah itu berjalan menuju gudang yang penuh dengan bahan-bahan pangan. Ia pun membuka pintu gudang hartanya. Lalu, dikeluarkannya karung-karung berisi tepung, gandum, dan bahan-bahan makanan lainnya.

Di tengah malam yang gelap gulita itu, Ali Zainal Abidin membawa karung-karung tepung dan gandum di atas punggungnya yang lemah dan kurus. Ia berkeliling di kota Madinah memikul karung-karung itu, lalu menaruhnya di depan pintu rumah orang-orang yang membutuhkan nya.

Di saat suasana hening dan sepi, di saat orang-orang tertidur pulas, Ali Zainal Abidin memberikan sedekah kepada fakir miskin di pelosok Madinah. “Alhamdulillah…, harta titipan sudah kusampaikan kepada yang berhak,”kata Ali Zainal Abidin. Lega hatinya dapat menunaikan pekerjaan itu sebelum fajar menyingsing. Sebelum orang-orang terbangun dari mimpinya.

Ketika hari mulai terang, orang-orang berseru kegirangan mendapatkan sekarung tepung di depan pintu. “Hah! Siapa yang sudah menaruh karung gandum ini?!” seru orang yang mendapat jatah makanan. “Rezeki Allah telah datang! Seseorang membawakan nya untuk kita!” sambut yang lainnya.

Begitu pula pada malam-malam berikutnya, Ali Zainal Abidin selalu mengirimkan karung-karung makanan untuk orang-orang miskin. Dengan langkah mengendap-endap, kalau-kalau ada yang memergokinya tengah berjalan di kegelapan malam. Ia segera meletakan karung-karung di muka pintu rumah orang-orang yang kelaparan.

“Sungguh! Kita terbebas dari kesengsaraan dan kelaparan! Karena seorang penolong yang tidak diketahui!” kata orang miskin ketika pagi tiba. “Ya! Semoga Allah melimpahkan harta yang berlipat kepada sang penolong…,” timpal seorang temannya.

Dari kejauhan, Ali Zainal Abidin mendengar semua berita orang yang mendapat sekarung tepung. Hatinya bersyukur pada Allah. Sebab, dengan memberi sedekah kepada fakir miskin hartanya tidak akan berkurang bahkan, kini hasil perdagangan dan pertanian Ali Zainal Abidin semakin bertambah keuntungannya.

Tak seorang pun yang tahu dari mana karung-karung makanan itu? Dan siapa yang sudah mengirimkannya? Ali Zainal Abidin senang melihat kaum miskin di kotanya tidak mengalami kelaparan. Ia selalu mencari tahu tentang orang-orang yang sedang kesusahan. Malam harinya, ia segera mengirimkan karung-karung makanan kepada mereka.

Malam itu, seperti biasanya, Ali Zainal Abidin memikul sekarung tepung di pundaknya. Berjalan tertatih-tatih dalam kegelapan. Tiba-tiba tanpa di duga seseorang melompat dari semak belukar. Lalu menghadangnya! “Hei! Serahkan semua harta kekayaanmu! Kalau tidak…,” orang bertopeng itu mengancam dengan sebilah pisau tajam ke leher Ali Zainal Abidin.

Beberapa saat Ali terperangah. Ia tersadar kalau dirinya sedang di rampok. “Ayo cepat! Mana uangnya?!” gertak orang itu sambil mengacungkan pisau. Ali menurunkan karung di pundaknya, lalu sekuat tenaga melemparkan karung itu ke tubuh sang perampok sehingga membuat orang bertopeng itu terjengkang keras ke tanah. Ternyata beban karung itu mampu membuatnya tak dapat bergerak. Ali segera menarik topeng yang menutupi wajahnya. Dan orang itu tak bisa melawan Ali.

“Siapa kau?!” tanya Ali sambil memperhatikan wajah orang itu. “Ampun, Tuan….jangan siksa saya…saya hanya seorang budak miskin…,”katanya ketakutan. “Kenapa kau merampokku?” Tanya Ali kemudian. “Maafkan saya, terpaksa saya merampok karena anak-anak saya kelaparan,” sahutnya dengan wajah pucat.

Ali melepaskan karung yang menimpa badan orang itu. Napasnya terengah-engah. Ali tak sampai hati menanyainya terus. “Ampunilah saya, Tuan. Saya menyesal sudah berbuat jahat…” “Baik! Kau kulepaskan. Dan bawalah karung makanan ini untuk anak-anakmu. Kau sedang kesusahan, bukan?” kata Ali.

Beberapa saat orang itu terdiam. Hanya memandangi Ali dengan takjub. “Sekarang pulanglah!” kata Ali. Seketika orang itu pun bersimpuh di depan Ali sambil menangis. “Tuan, terima kasih! Tuan sangat baik dan mulia! Saya bertaubat kepada Allah…saya berjanji tidak akan mengulanginya,” kata orang itu penuh sesal.

Ali tersenyum dan mengangguk–anggukkan kepalanya. “Hai, orang yang bertaubat! Aku merdekakan dirimu karena Allah! Sungguh, Allah Maha pengampun.” Orang itu bersyukur kepada Allah. Ali memberi hadiah kepadanya karena ia sudah bertaubat atas kesalahannya.

“Aku minta, jangan kau ceritakan kepada siapapun tentang pertemuanmu denganku pada malam ini…,” kata Ali sebelum orang itu pergi.” Cukup kau doakan agar Allah mengampuni segala dosaku,” sambung Ali, dan orang itu menepati janjinya. Ia tidak pernah mengatakan pada siapa pun bahwa Ali-lah yang selama ini telah mengirimkan karung-karung makanan untuk orang-orang miskin.

Suatu ketika setelah wafatnya Ali Zainal Abidin, orang yang dimerdekakan Ali segera bertakziah ke rumahnya. Ia ikut memandikan jenazahnya bersama orang-orang. Orang-orang itu melihat bekas-bekas hitam di punggung di pundak jenazah Ali. Lalu mereka pun bertanya, “Dari manakah asal bekas-bekas hitam ini?” “Itu adalah bekas karung-karung tepung dan gandum yang biasa diantarkan Ali ke seratus rumah di Madinah,” kata orang yang bertaubat itu dengan rasa haru.

Barulah orang-orang tahu dari mana datangnya sumber rezeki yang mereka terima itu. Seiring dengan wafatnya Ali Zainal Abidin, keluarga-keluarga yang biasa di beri sumbangan itu merasa kehilangan. Orang yang bertaubat itu lalu mengangkat kedua tangan seraya berdo’a,” Ya Allah, ampunilah dosa Ali bin Husein bin Ali bin Abi Thalib, cucu Rasulullah Saw.”

Al-Imam Ali Shahibud Dark

Posted by MAJELIS DZIKIR ASMAUL HUSNA RHOTIB SYAMSI SYUMUS KUDUS On Categories:

[Al-Imam Ali Shahibud Dark - Alwi Al-Ghuyur - Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad - Ali - Muhammad Shohib Mirbath - Ali Khali' Qasam - Alwi - Muhammad - Alwi - Ubaidillah - Ahmad Al-Muhajir - Isa Ar-Rumi - Muhammad An-Naqib - Ali Al-'Uraidhi - Ja'far Ash-Shodiq - Muhammad Al-Baqir - Ali Zainal Abidin - Husain - Fatimah Az-Zahro - Muhammad SAW]

Beliau adalah Al-Imam Ali bin Alwi Al-Ghuyur bin Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad bin Ali bin Muhammad Shohib Mirbath bin Ali Khali’ Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Al-Imam Al-Muhajir Ahmad bin Isa, dan terus bersambung nasabnya sampai Rasulullah SAW. Beliau dijuluki dengan Shahibud Dark (orang yang sampai pada maqam dapat memberikan pertolongan kepada orang lain).

Beliau adalah seorang imam, guru besar dan wali yang terkenal. Beliau adalah orang yang mahbub (dicintai) di sisi Allah. Ibu beliau adalah seorang syarifah, yaitu Sayyidah Fatimah binti Ahmad bin Alwi bin Muhammad Shahib Mirbath.

Beliau, Al-Imam Ali Shahibud Dark, adalah termasuk orang-orang yang yang diberikan kekhususan. Beliau seorang ‘arif billah dan qutub. Beliau seorang yang kuat dalam ber-mujahadah dan suka menyendiri dalam ber-muwajahah kepada Allah. Diri beliau adalah merupakan sosok teladan bagi para muridin dan arifin.

Beliau dibesarkan dalam didikan ayahnya. Beliau juga sempat hidup dengan kakeknya, Al-Faqih Al-Muqaddam, ketika masih kecil. Dari keduanya, beliau mendapatkan banyak nafahat.

Suatu ketika saat berada di Mekkah, beliau berdoa kepada Allah agar diberikan seorang anak yang sholeh. Spontan setelah itu terdengar suara, “Doamu telah dikabulkan oleh Allah. Maka kembalilah engkau ke negerimu.” Beliau pun kembali ke Tarim. Namun beliau masih berlambat-lambat dalam menikah. Suatu ketika beliau berada di salah satu masjid di kota Tarim sedang berdoa. Saat beliau hanyut dalam doanya dan ruhnya naik keatas langit, beliau mendapat kabar gembira dengan akan diberikannya seorang anak yang sholeh. Beliau lalu berkata, “Saya ingin melihat tandanya.” Lalu beliau diberi 2 lembar kertas, sambil dikatakan kepada beliau, “Taruhlah salah satu kertas itu diatas mata seorang wanita yang berada di dekatmu, maka ia akan segera dapat melihat.” Dan memang di dekat beliau ada seorang wanita yang buta. Beliau pun lalu menaruh salah satu kertas tersebut diatas matanya dan spontan wanita itu dapat melihat kembali. Beliau pun kemudian menikah dengan wanita tersebut dan memperoleh seorang anak yang sholeh yang bernama Muhammad.

Beliau, Al-Imam Ali Shahibud Dark, banyak mempunyai karomah dan keajaiban. Beliau adalah orang yang suka ber-khalwah (menyendiri) dan ber-zuhud terhadap dunia. Beliau sering berziarah ke makam Nabiyallah Hud di bulan Rajab, Sya’ban dan Ramadhan.

Muhammad bin Abu As-Su’ud pernah berkata,

“Suatu ketika beliau mendapatkan harta. Lalu aku mendengar beliau berkata, ‘Ali bin Alwi dan dunia…Ya Allah, jauhkan aku darinya, atau jauhkan ia dariku.’ Beliau meninggal 3 bulan setelah itu.”

As-Syeikh Ibrahim bin Abu Qusyair berkata,

“Aku bermimpi bertemu dengan Asy-Syeikh Ali bin Alwi, lalu aku bertanya, ‘Bagaimana Allah memperlakukanmu?. Beliau menjawab, ‘Sesuatu apapun tak dapat membahayakan orang yang mahbub (dicintai).’ “

Beliau meninggal pada hari Rabu, 17 Rajab 709 H. Beliau meninggalkan seorang putra yang bernama Muhammad Maulad Dawilah, dan 6 putri yang masing-masing bernama Maryam, Khadijah, Zainab, Aisyah, Bahiyah dan Maniyah. Kesemuanya berasal dari seorang ibu yang bernama Fatimah bin Sa’ad Balaits.

Radhiyallohu anhu wa ardhah…

[Disarikan dari Syarh Al-Ainiyyah, Nadzm Sayyidina Al-Habib Al-Qutub Abdullah bin Alwi Alhaddad Ba'alawy, karya Al-Allamah Al-Habib Ahmad bin Zain Alhabsyi Ba'alawy]

Al-Imam Ali Khali’ Qasam

Posted by MAJELIS DZIKIR ASMAUL HUSNA RHOTIB SYAMSI SYUMUS KUDUS On Categories:

[Al-Imam Ali Khali' Qasam - Alwi - Muhammad - Alwi - Ubaidillah - Ahmad Al-Muhajir - Isa Ar-Rumi - Muhammad An-Naqib - Ali Al-'Uraidhi - Ja'far Ash-Shodiq - Muhammad Al-Baqir - Ali Zainal Abidin - Husain - Fatimah Az-Zahro - Muhammad SAW]

Beliau adalah Al-Imam Ali bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa bin Muhammad bin Ali Al-’Uraidhi bin Ja’far Ash-Shodiq, dan terus bersambung nasabnya hingga Rasulullah SAW.

Beliau terkenal dengan julukan Khali’ Qasam (pelepas/pemberi Qasam). Julukan tersebut diberikan kepada beliau dikarenakan beliau membeli suatu tanah dengan harga 20.000 Dinar. Tanah itu kemudian beliau namakan dengan Qasam, sesuai dengan nama tanah keluarganya di kota Bashrah. Di tanah itu beliau menanam pohon kurma. Disana beliau juga membangun suatu rumah yang ditempati pada saat panen kurma. Kemudian beberapa orang membangun rumah-rumah disamping rumah beliau. Sampai akhirnya tempat itu menjadi suatu desa dan dinamakan dengan desa Qasam.

Beliau dilahirkan di Bait Jubair (di Hadramaut), suatu daerah yang penuh berkah dan kebaikan. Beliau dibesarkan di daerah itu. Beliau mengambil ilmu dari ayahnya. Beliau sering mondar-mandir bepergian ke kota Tarim. Akhirnya beliau, diikuti oleh saudara-saudara dan anak pamannya, memutuskan untuk tinggal di kota Tarim.

Beliau adalah seorang imam agung, guru besar, dan terkenal dengan keluasan ilmunya. Terkumpul di dalam diri beliau keutamaan dan kebaikan, anwar dan asrar. Beliau dikaruniai oleh Allah dengan maqam yang sangat tinggi, sehingga tampak dalam diri beliau karomah-karomah yang luar biasa. Beliau adalah seorang alim yang tiada duanya di jamannya dan tempat rujukan bagi manusia di saat itu. Jarang sekali pada suatu jaman terdapat orang yang mempunyai maqam setinggi beliau.

Para ulama besar dan ahli sejarah banyak menyebutkan manaqib dan ketinggian maqam beliau di buku-buku mereka. Termasuk di antaranya adalah Al-Imam Al-Habib Abdullah bin Alwi Alhaddad menyebutnya dalam suatu syairnya,

Rasulullah membalas salamnya, “(Salam bagimu) Ya Syeikh”
sebagai jawaban atas salamnya (kepada Rasulullah),
maka dibuat kagumlah para orang-orang mulia.

Syair tersebut menggambarkan suatu karomah besar yang ada pada diri beliau, Al-Imam Ali Khali’ Qasam. Hal ini terjadi setelah beliau tinggal di kota Tarim. Beliau jika menjalankan shalat dan sampai pada waktu tahiyat dan membaca salam kepada Nabi SAW, “As-salaamu ‘alaika ayyuhan Nabiyu wa rohmatullohi wa barakaatuh,” beliau mengulang-ulangi bacaan tersebut, sampai beliau mendengar langsung jawaban dari Rasulullah SAW, “As-salaamu ‘alaika ya Syeikh (salam sejahtera bagimu wahai Syeikh).” Demikianlah yang terjadi sebagaimana diceritakan oleh beberapa ulama seperti Al-Jundi, Asy-Syaraji, Ibnu Hisan, dan lain-lain. Al-Allamah Asy-Syeikh Al-Khatib juga menyebutkannya di dalam kitabnya Al-Jauhar Asy-Syafaaf.

Kekhususan ini, yakni dapat mendengar jawaban salam dari Rasulullah SAW, merupakan suatu maqam yang tinggi. Tidak bisa mendapatkan maqam setinggi itu, kecuali hanya segelintir auliya. Maqam itu tidak bisa didapatkan kecuali oleh orang yang sangat-sangat dekat dengan Allah. Asy-Syeikh Abdul Wahab Asy-Sya’rawi berkata dalam hal ini, “Tidak akan sampai seseorang kepada maqam berinteraksi langsung dengan Rasulullah SAW dan mendengar jawaban salam dari beliau SAW, kecuali ia telah melampaui 247.999 maqam para Auliya.”

Asy-Syeikh Abu Al-Abbas Al-Mursi bertanya kepada teman-temannya, “Adakah diantara kalian yang ketika menyampaikan salam kepada Rasul SAW di dalam shalat, terus dapat mendengar jawaban salam dari beliau SAW?.” Mereka berkata, “Tidak ada.” Selanjutnya beliau berkata, “Menangislah kalian, karena kalbu-kalbu kalian tertutup dari Allah dan Rasul-Nya.”

Beliau, Al-Imam Ali Khali’ Qasam, tidak hanya mendapat jawaban salam dari Rasul SAW di dalam shalatnya saja, tetapi di dalam semua kesempatan yang beliau memberikan salam kepada Rasul SAW. Beliau, meskipun mempunyai maqam yang demikian tinggi, adalah seorang yang sangat tawadhu. Beliau mempunyai akhlak yang mulia. Disamping itu, beliau adalah seorang yang pemurah.

Beliau meninggal berkisar pada tahun 523-529 H. Di dalam riwayat lain dikatakan beliau meninggal pada tahun 529 H1. Jasad beliau disemayamkan di pekuburan Zanbal, Tarim.

Radhiyallohu anhu wa ardhah…

[Disarikan dari Syarh Al-Ainiyyah, Nadzm Sayyidina Al-Habib Al-Qutub Abdullah bin Alwi Alhaddad Ba'alawy, karya Al-Allamah Al-Habib Ahmad bin Zain Alhabsyi Ba'alawy]

Al-Imam Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad

Posted by MAJELIS DZIKIR ASMAUL HUSNA RHOTIB SYAMSI SYUMUS KUDUS On Categories:

[Al-Imam Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad - Ali - Muhammad Shohib Mirbath - Ali Khali' Qasam - Alwi - Muhammad - Alwi - Ubaidillah - Ahmad Al-Muhajir - Isa Ar-Rumi - Muhammad An-Naqib - Ali Al-'Uraidhi - Ja'far Ash-Shodiq - Muhammad Al-Baqir - Ali Zainal Abidin - Husain - Fatimah Az-Zahro - Muhammad SAW]

Beliau adalah Al-Imam Muhammad bin Ali bin Muhammad Shohib Mirbath bin Ali Khali’ Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Al-Imam Al-Muhajir Ahmad bin Isa, dan terus bersambung nasabnya sampai Rasulullah SAW. Beliau dijuluki dengan Al-Faqih Al-Muqaddam (seorang faqih yang diunggulkan).

Beliau adalah al-’arif billah, seorang ulama besar, pemuka para imam dan guru, suri tauladan bagi al-’arifin, penunjuk jalan bagi as-salikin, seorang qutub yang agung, imam bagi Thariqah Alawiyyah, seorang yang mendapatkan kewalian rabbani dan karomah yang luar biasa, seorang yang mempunyai jiwa yang bersih dan perjalanan hidupnya terukir dengan indah.

Beliau adalah seorang yang diberikan keistimewaan oleh Allah SWT, sehingga beliau mampu menyingkap rahasia ayat-ayat-Nya. Ditambah lagi Allah memberikannya kemampuan untuk menguasai berbagai macam ilmu, baik yang dhohir ataupun yang bathin.

Beliau dilahirkan pada tahun 574 H. Beliau mengambil ilmu dari para ulama besar di jamannya. Di antaranya adalah Al-Imam Al-Allamah Al-Faqih Abul Hasan Ali bin Ahmad bin Salim Marwan Al-Hadhrami At-Tarimi. Al-Imam Abul Hasan ini adalah seorang guru yang agung, pemuka para ulama besar di kota Tarim. Selain itu beliau (Al-Faqih Al-Muqaddam) juga mengambil ilmu dari Al-Faqih Asy-Syeikh Salim bin Fadhl dan Al-Imam Al-Faqih Abdullah bin Abdurrahman bin Abu Ubaid (pengarang kitab Al-Ikmal Ala At-Tanbih). Gurunya itu, yakni Al-Imam Abdullah bin Abdurrahman, tidak memulai pelajaran kecuali kalau Al-Faqih Al-Muqaddam sudah hadir. Selain itu beliau (Al-Fagih Al-Muqaddam) juga mengambil ilmu dari beberapa ulama besar lainnya, diantaranya Al-Qadhi Al-Faqih Ahmad bin Muhammad Ba’isa, Al-Imam Muhammad bin Ahmad bin Abul Hubbi, Asy-Syeikh Sufyan Al-Yamani, As-Sayyid Al-Imam Al-Hafidz Ali bin Muhammad bin Jadid, As-Sayyid Al-Imam Salim bin Bashri, Asy-Syeikh Muhammad bin Ali Al-Khatib, Asy-Syeikh As-Sayyid Alwi bin Muhammad Shohib Mirbath (paman beliau) dan masih banyak lagi.

Dalam mengambil sanad keilmuan dan thariqahnya, beliau mengambil dari dua jalur sekaligus. Jalur pertama adalah beliau mengambil dari orangtua dan pamannya, orangtua dan pamannya mengambil dari kakeknya, dan terus sambung-menyambung dan akhirnya sampai kepada Rasulullah SAW. Adapun jalur yang kedua, beliau mengambil dari seorang ulama besar dan pemuka ahli sufi, yaitu Sayyidina Asy-Syeikh Abu Madyan Syu’aib, melalui dua orang murid Asy-Syeikh Abu Madyan, yaitu Abdurrahman Al-Maq’ad Al-Maghrobi dan Abdullah Ash-Sholeh Al-Maghrobi. Kemudian Asy-Syeikh Abu Madyan mengambil dari gurunya, gurunya mengambil dari gurunya, dan terus sambung-menyambung dan akhirnya sampai kepada Rasulullah SAW.

Di masa-masa awal pertumbuhannya, beliau menjalaninya dengan penuh kesungguhan dan mencari segala hal yang dapat mendekatkan diri kepada Allah. Beliau berpegang teguh pada Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah, serta mengikuti jejak-jejak para Sahabat Nabi dan para Salafus Sholeh. Beliau ber-mujahadah dengan keras dalam mendidik akhlaknya dan menghiasinya dengan adab-adab yang sesuai dengan syariah.

Beliau juga giat dalam menuntut ilmu, sehingga mengungguli ulama-ulama di jamannya dalam penguasaan berbagai macam ilmu. Para ulama di jamannya pun mengakui akan ketinggian dan penguasaannya dalam berbagai macam ilmu. Mereka juga mengakui kesempurnaan yang ada pada diri beliau untuk menyandang sebagai imam di jamannya.

Mujahadah beliau di masa-masa awal pertumbuhannya bagaikan mujahadahnya orang-orang yang sudah mencapai maqam al-’arif billah. Allah-lah yang mengaruniai kekuatan dan keyakinan di dalam diri beliau. Allah-lah juga yang mengaruniai beliau berbagai macam keistimewaan dan kekhususan yang tidak didapatkan oleh para qutub yang lainnya. Hati beliau tidak pernah kosong sedetikpun untuk selalu berhubungan dengan Allah. Sehingga tampak pada diri beliau asrar, waridad, mawahib dan mukasyafah.

Beliau adalah seorang yang tawadhu dan menyukai ketertutupan di setiap keadaannya. Beliau pernah berkirim surat kepada seorang pemuka para ahli sufi yang bernama Asy-Syeikh Sa’ad bin Ali Adz-Dzofari. Setelah Asy-Syeikh Sa’ad membaca surat itu dan merasakan kedalaman isi suratnya, ia terkagum-kagum dan merasakan asrar dan anwar yang ada di dalamnya. Kemudian ia membalas surat tersebut, dan di akhir suratnya ia berkata, “Engkau, wahai Faqih, orang yang diberikan karunia oleh Allah yang tidak dipunyai oleh siapapun. Engkau adalah orang yang paling mengerti dengan syariah dan haqiqah, baik yang dhohir maupun yang bathin.”

Berkata Al-Imam Asy-Syeikh Abdurrahman As-Saggaf tentang diri Al-Faqih Al-Muqaddam, “Aku tidak pernah melihat atau mendengar suatu kalam yang lebih kuat daripada kalamnya Al-Faqih Muhammad bin Ali, kecuali kalamnya para Nabi alaihimus salam. Kami tidak dapat mengunggulkan seorang wali pun terhadapnya (Al-Faqih Al-Muqaddam), kecuali dari golongan Sahabat Nabi, atau orang yang diberikan kelebihan melalui Hadits seperti Uwais (Al-Qarni) atau selainnya.”

Beliau, Al-Faqih Al-Muqaddam, pernah berkata, “Aku terhadap masyakaratku seperti awan.” Suatu hari dikisahkan bahwa beliau pernah tertinggal pada saat ziarah ke kubur Nabiyallah Hud alaihis salam. Beliau berkisah, “Pada suatu saat aku duduk di suatu tempat yang beratap tinggi. Tiba-tiba datanglah Nabiyallah Hud ke tempatku sambil membungkukkan badannya agar tak terkena atap. Lalu ia berkata kepadaku, ‘Wahai Syeikh, jika engkau tidak berziarah kepadaku, maka aku akan berziarah kepadamu.’”

Dikisahkan juga bahwa pada suatu saat ketika beliau sedang duduk-duduk bersama para sahabatnya, datanglah Nabi Khidir alaihis salam menyerupai seorang badui dan diatas kepalanya terdapat kotoran. Bangunlah Al-Faqih Al-Muqaddam, lalu mengambil kotoran tersebut dari kepalanya dan kemudian memakannya. Kejadian tersebut membuat para sahabatnya terheran-heran. Akhirnya mereka bertanya, “Siapakah orang itu?.” Maka Al-Faqih Al-Muqaddam menjawab, “Dia adalah Nabi Khidir alaihis salam.”

Beliau, Al-Faqih Al-Muqaddam, banyak menghasilkan para ulama besar di jamannya. Beberapa ulama besar berhasil dalam didikan beliau. Yang paling terutama adalah dua orang muridnya, yaitu Asy-Syeikh Abdullah bin Muhammad ‘Ibad dan Asy-Syeikh Sa’id bin Umar Balhaf. Selain keduanya, banyak juga ulama-ulama besar yang berhasil digembleng oleh beliau, diantaranya Asy-Syekh Al-Kabir Abdullah Baqushair, Asy-Syeikh Abdurrahman bin Muhammad ‘Ibad, Asy-Syeikh Ali bin Muhammad Al-Khatib dan saudaranya Asy-Syeikh Ahmad, Asy-Syeikh Sa’ad bin Abdullah Akdar dan saudara-saudara sepupunya, dan masih banyak lagi.

Beliau wafat pada tahun 653 H, akhir dari bulan Dzulhijjah. Jazad beliau disemayamkan di pekuburan Zanbal, di kota Tarim. Banyak masyarakat yang berduyun-duyun menghadiri prosesi pemakaman beliau. Beliau meninggalkan 5 orang putra, yaitu Alwi, Abdullah, Abdurrahman, Ahmad dan Ali.

Radhiyallohu anhu wa ardhah…

[Disarikan dari Syarh Al-Ainiyyah, Nadzm Sayyidina Al-Habib Al-Qutub Abdullah bin Alwi Alhaddad Ba'alawy, karya Al-Allamah Al-Habib Ahmad bin Zain Alhabsyi Ba'alawy]

Al-Imam Ahmad Al-Muhajir

Posted by MAJELIS DZIKIR ASMAUL HUSNA RHOTIB SYAMSI SYUMUS KUDUS On Categories:

[Al-Imam Ahmad Al-Muhajir - Isa Ar-Rumi - Muhammad An-Naqib - Ali Al-'Uraidhi - Ja'far Ash-Shodiq - Muhammad Al-Baqir - Ali Zainal Abidin - Husain - Fatimah Az-Zahro - Muhammad SAW]

Beliau adalah Al-Imam Ahmad bin Isa bin Muhammad bin Ali Al-’Uraidhi bin Ja’far Ash-Shodiq, dan terus bersambung nasabnya hingga Rasulullah SAW. Beliau adalah seorang yang tinggi di dalam keutamaan, kebaikan, kemuliaan, akhlak dan budi pekertinya. Beliau juga seorang yang sangat dermawan dan pemurah.

Beliau berasal dari negara Irak, tepatnya di kota Basrah. Ketika beliau mencapai kesempurnaan di dalam ketaatan dan ibadah kepada Allah, bersinarlah mata batinnya dan memancarlah cahaya kewaliannya, sehingga tersingkaplah padanya hakekat kehidupan dunia dan akherat, mana hal-hal yang bersifat baik dan buruk.

Beliau di Irak adalah seorang yang mempunyai kedudukan yang tinggi dan kehidupan yang makmur. Akan tetapi ketika beliau mulai melihat tanda-tanda menyebarnya racun hawa nafsu disana, beliau lebih mementingkan keselamatan agamanya dan kelezatan untuk tetap beribadah menghadap Allah SWT. Beliau mulai menjauhi itu semua dan membulatkan tekadnya untuk berhijrah, dengan niat mengikuti perintah Allah, “Bersegeralah kalian lari kepada Allah…”

Adapun sebab-sebab kenapa beliau memutuskan untuk berhijrah dan menyelamatkan agamanya dan keluarganya, dikarenakan tersebarnya para ahlul bid’ah dan munculnya gangguan kepada para Alawiyyin, serta begitu sengitnya intimidasi yang datang kepada mereka. Pada saat itu muncul sekumpulan manusia-manusia bengis yang suka membunuh dan menganiaya. Mereka menguasai kota Basrah dan daerah-daerah sekitarnya. Mereka membunuh dengan sadis para kaum muslimin. Mereka juga mencela kaum perempuan muslimin dan menghargainya dengan harga 2 dirham. Mereka pernah membunuh sekitar 300.000 jiwa dalam waktu satu hari. Ash-Shuly menceritakan tentang hal ini bahwa jumlah total kaum muslimin yang terbunuh pada saat itu adalah sebanyak 1.500.000 jiwa.

Pemimpin besar mereka adalah seorang yang pandir dengan mengaku bahwa dirinya adalah Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Ali bin Isa bin Zainal Abidin, padahal nasab itu tidak ada. Ia suka mencaci Ustman, Ali, Thalhah, Zubair, Aisyah dan Muawiyah. Ini termasuk salah satu golongan dalam Khawarij.

Karena sebab-sebab itu, Al-Imam Ahmad memutuskan untuk berhijrah. Kemudian pada tahun 317 H, berhijrahlah beliau bersama keluarga dan kerabatnya dari Basrah menuju ke Madinah. Termasuk di dalam rombongan tersebut adalah putra beliau yang bernama Ubaidillah dan anak-anaknya, yaitu Alwi (kakek keluarga Ba’alawy), Bashri (kakek keluarga Bashri), dan Jadid (kakek keluarga Jadid). Mereka semua adalah orang-orang sunni, ulama yang mengamalkan ilmunya, orang-orang sufi dan sholeh. Termasuk juga yang ikut dalam rombongan beliau adalah para budak dan pembantu beliau, serta termasuk didalamnya adalah kakek dari keluarga Al-Ahdal. Dan juga ikut diantaranya adalah kakek keluarga Bani Qadim (Bani Ahdal dan Qadim adalah termasuk keturunan dari paman-paman beliau).

Pada tahun ke-2 hijrahnya beliau, beliau menunaikan ibadah haji beserta orang-orang yang ikut hijrah bersamanya. Kemudian setelah itu, beliau melanjutkan perjalanan hijrahnya menuju ke Hadramaut. Masuklah beliau ke daerah Hajrain dan menetap disana untuk beberapa lama. Setelah itu beliau melanjutkan ke desa Jusyair. Tak lama disana, beliau lalu melanjutkan kembali perjalanannya dan akhirnya sampailah di daerah Husaisah (nama desa yang berlembah dekat Tarim). Akhirnya beliau memutuskan untuk menetap disana.

Semenjak beliau menetap disana, mulai terkenallah daerah tersebut. Disana beliau mulai menyebarkan-luaskan As-Sunnah. Banyak orang disana yang insyaf dan kembali kepada As-Sunnah berkat beliau. Beliau berhasil menyelamatkan keturunannya dari fitnah jaman.

Masuknya beliau ke Hadramaut dan menetap disana banyak mendatangkan jasa besar. Sehingga berkata seorang ulama besar, Al-Imam Fadhl bin Abdullah bin Fadhl, “Keluar dari mulutku ungkapan segala puji kepada Allah. Barangsiapa yang tidak menaruh rasa husnudz dzon kepada keluarga Ba’alawy, maka tidak ada kebaikan padanya.” Hadramaut menjadi mulia berkat keberadaan beliau dan keturunannya disana. Sulthanah binti Ali Az-Zabiidy (semoga Allah merahmatinya) telah bermimpi bertemu Rasulullah SAW, dimana di mimpi tersebut Rasulullah SAW masuk ke dalam kediaman salah seorang Saadah Ba’alawy, sambil berkata, “Ini rumah orang-orang tercinta. Ini rumah orang-orang tercinta.”

Radhiyallohu anhu wa ardhah…

[Disarikan dari Syarh Al-Ainiyyah, Nadzm Sayyidina Al-Habib Al-Qutub Abdullah bin Alwi Alhaddad Ba'alawy, karya Al-Allamah Al-Habib Ahmad bin Zain Alhabsyi Ba'alawy]

Al-Habib Zain bin Abdullah Al-Aidrus

Posted by MAJELIS DZIKIR ASMAUL HUSNA RHOTIB SYAMSI SYUMUS KUDUS On Categories:

Nasab beliau

Nasab beliau bersandar pada silsilah dzahabiyyah, bersambung dari ayah ke kakek, sampai akhirnya bertemu dengan kakek beliau yang termulia Rasulullah SAW. Adapun perinciannya, beliau adalah:

Al-Habib Al-Allamah Zain bin Abdullah bin Alwi bin Umar bin Ahmad bin Abdullah bin Muhammad bin Abdullah bin Ali bin Abdullah bin Ahmad Ash-Shalaibiyyah bin Husin bin Abdullah bin Syaikh bin Abdullah Al-Aidrus bin Abu Bakar As-Sakran bin Abdur Rahman As-Saggaf bin Muhammad Maulad Dawilah bin Ali Shahib Ad-Dark bin Alwi bin Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad bin Ali bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khali’ Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Al-Imam Al-Muhajir Ahmad bin Isa bin Ali Al-’Uradhy bin Ja’far Ash-Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husin, putri Sayyidah Fatimah binti Rasulullah SAW.

Kelahiran dan masa kecil beliau

Beliau dilahirkan di daerah As-Suweiry (dekat kota Tarim), Hadramaut, pada tahun 1289 H. Ayah beliau Al-Habib Abdullah, berasal dari kota Tarim, dan kemudian berhijrah ke kota As-Suweiry dengan beberapa teman beliau atas perintah Al-Imam Al-Habib Thahir bin Husin Bin Thahir Ba’alawy untuk mengawasi gencatan senjata antar kabilah yang terjadi di kota tersebut.

Beliau Al-Habib Zain tumbuh dalam suatu keluarga yang penuh keutamaan, ilmu dan akhlak, mencontoh keluarga datuk beliau Rasulullah SAW. Al-Habib Abdullah, ayah beliau, mencurahkan perhatian yang lebih kepada beliau diantara saudara-saudaranya, karena selain beliau adalah anak yang terakhir, juga beliau adalah anak yang berperilaku yang mulia dan berhati bersih. Dan sungguh Al-Habib Abdullah melihat dengan firasat tajamnya bahwa putra beliau yang satu ini akan menjadi seorang yang mempunyai hal (keadaan) yang tinggi di suatu masa mendatang.

Beliau Al-Habib Zain tumbuh dewasa dan dicintai oleh keluarganya dan masyarakat As-Suweiry. Beliau habiskan masa kecil beliau dengan penuh kezuhudan dan ibadah. Beliau semenjak kecilnya gemar sekali menjaga kewajiban shalat dan menunaikan shalat-shalat sunnah. Suatu kegemaran yang jarang sekali dipunyai oleh anak-anak sebaya beliau.

Perjalanan hijrah beliau

Pada tahun 1301 H, beliau melakukan perjalanan hijrah ke Indonesia, disertai saudara-saudaranya Alwi, Ahmad dan Ali. Pada saat itu beliau masih berusia 12 tahun. Di Indonesia beliau bertemu dengan pamannya Al-Allamah Al-Habib Muhammad bin Alwi Al-Aidrus yang sudah terlebih dahulu menetap disana.

Masa belajar beliau

Sebelum beliau berhijrah ke Indonesia, beliau banyak mengambil ilmu dari keluarganya, dan juga dari para ulama di tempat asalnya Hadramaut, yang memang terkenal pada saat itu dengan negeri yang penuh dengan ulama-ulama besar. Dari daerah tersebut, beliau banyak mengambil berbagai macam ilmu-ilmu agama.

Setelah berada di Indonesia, beliau menuntut ilmu kepada pamannya Al-Habib Muhammad. Setelah dirasakan cukup, beliau Al-Habib Zain dikirim oleh pamannya untuk menuntut ilmu kepada salah seorang mufti terkenal di Indonesia saat itu, yaitu Al-Habib Al-Faqih Al-Allamah Utsman bin Abdullah Bin Yahya. Guru beliau Al-Habib Utsman Bin Yahya merupakan salah seorang tokoh agama yang cukup mumpuni di bidang fiqih dan ilmu-ilmu keislaman saat itu. Banyak diantara para murid Al-Habib Utsman yang menjadi ulama-ulama besar, seperti Al-Habib Ali bin Abdur Rahman Alhabsyi, Kwitang.

Hiduplah beliau Al-Habib Zain dibawa didikan gurunya Al-Habib Utsman Bin Yahya. Sebagaimana masa kecilnya, semangat beliau seakan tak pupus untuk belajar dengan giat dan tekun. Banyak ilmu yang diambil beliau dari gurunya, diantaranya adalah ilmu-ilmu bahasa Arab, Fiqih, Fara’idh (ilmu waris), Ushul, Falak, dan sebagainya. Beliau mengambil dari gurunya ilmu dan amal dan beliau banyak mendapatkan ijazah dari gurunya tersebut.

Masa dakwah beliau

Pada tahun 1322 H, berdirilah sebuah sekolah agama di kota Jakarta yang dinamakan Jamiat Khair. Beberapa pengurus dari sekolah itu kemudian datang kepada beliau untuk memintanya mengajar disana. Akhirnya mengajarlah beliau disana dengan kesungguhan, tanpa lelah dan bosan. Pada saat itu beliau merupakan salah seorang staf pengajar kurun waktu pertama sekolah Jamiat Khair, suatu sekolah yang banyak menghasilkan tokoh-tokoh agama dan pergerakan.

Selang beberapa tahun kemudian, beliau mendirikan sebuah sekolah kecil di jalan Gajah Mada, Jakarta. Keberadaan sekolah itu disambut dengan gembira oleh masyarakat, yang sangat butuh akan ilmu-ilmu agama. Akan tetapi sayangnya, tak selang berapa lama, dengan kedatangan Jepang, sekolah tersebut ditutup oleh penjajah Jepang.

Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1326 H, beliau mendirikan majlis taklim di Masjid Al-Mubarak, Krukut, Jakarta. Majlis taklim tersebut diadakan siang dan malam, dan banyak dihadiri pria dan wanita. Sepeninggal pamannya Al-Habib Muhammad, beliaulah yang menjadi khalifah-nya. Termasuk juga beliau menjadi imam di Masjid tersebut, menggantikan posisi pamannya. Di masjid itu, beliau mengajarkan ilmu-ilmu agama, diantaranya ilmu Tafsir, Fiqih, Akidah yang lurus, dan ilmu-ilmu lainnya, dengan cara yang mudah dan sederhana. Begitulah seterusnya beliau menjalankan aktivitasnya dalam berdakwah, tanpa lelah dan bosan, selama 70 tahun.

Suluk beliau

Sebagaimana thariqah yang dipegang oleh para Datuk beliau, beliau bermadzhabkan kepada Al-Imam Asy-Sy-Syafi’i dan bersandarkan pada aqidah Asy’ariyyah, salah satu aqidah didalam Ahlus Sunnah wal Jamaah. Itulah yang beliau bawa sebagai pegangan hidup, meneruskan dari apa-apa yang telah digariskan oleh datuk-datuk beliau para Salaf Bani Alawy.

Sifat-sifat mulia beliau

Sedangkan mengenai sifat-sifat beliau, beliau adalah seorang memiliki khasyah (rasa takut) kepada Allah, zuhud terhadap dunia, qana’ah dalam menerima sesuatu, banyak membaca Al-Qur’an dan dzikir. Sebagaimana di masa kecilnya, beliau selalu tekun melakukan shalat di Masjid Al-Mubarak dan disana beliau selalu bertindak sebagai imam. Salah satu kebiasaan yang sering beliau lakukan adalah beliau tidak keluar dari masjid setelah menunaikan shalat Subuh, kecuali setelah datangnya waktu isyraq (terbitnya matahari). Begitu juga dengan shalat-shalat sunnah yang selalu beliau kerjakan. Hal ini berlangsung terus meskipun beliau sudah memasuki masa tuanya.

Wafat beliau

Di akhir hayatnya, majlis beliau adalah sebuah majlis ilmu yang penuh dengan kedamaian dan ketenangan, majlis yang penuh akhlak dan adab, majlis yang penuh anwar dan asrar, taman ilmu dan hikmah, penuh dengan dzikir dan doa. Sampai akhirnya beliau dipanggil oleh Allah SWT untuk menghadap-Nya, dalam usianya 110 tahun. Beliau wafat pada hari Sabtu, tanggal 24 Rabi’ul Tsani 1399 H (24 Maret 1979 M), sekitar pukul 3 sore. Jasad beliau disemayamkan di pekuburan Condet (depan Al-Hawi), Jakarta.

Derai tangis mengiringi kepergian beliau menuju Hadratillah. Al-Habib Husin bin Abdur Rahman Assegaf melantunkan syair perpisahan dengan beliau, yang diantara baitnya berbunyi:

Keindahan ufuk itu telah hilang dan pancaran cahaya bintang itu telah pergi.

Ia menerangi kami beberapa saat dan setelah habisnya malam, ia pun berlalu dan pergi.

Itulah Al-Faqid Zain yang pernah menerangi zaman dan penunjuk hidayah.

Sungguh beliau adalah pelita bagi ilmu agama dan Al-Qur’an, serta seorang imam, jarang ada yang menyamainya.

Khalifah (penerus) bagi para pendahulunya, beliau berjalan pada atsar dan jejak langkah mereka.

Seorang ulama min ahlillah telah berpulang, akan tetapi ilmu dan akhlaknya akan tetap terus terkenang, menjadi ibrah bagi orang-orang yang mempunyai bashirah.

Radhiyallahu anhu wa ardhah…


Referensi:

Jauharah An-Nufus As-Sayyid Al-Allamah Zain bin Abdullah Ash-Shalaibiyyah Al-Aidrus, As-Sayid Hasan bin Husin Assaggaf.
Tahqiq Syams Adh-Dhahirah, Al-Habib Muhammad Dhia Bin Syahab, juz. 2.
Harian Pos Kota, Senin, 26 Maret 1979.
Harian Sinar Harapan, Senin, 26 Maret 1979.

Al-Habib Usman Bin Yahya

Posted by MAJELIS DZIKIR ASMAUL HUSNA RHOTIB SYAMSI SYUMUS KUDUS On Categories:

HABIB Usman bin Yahya lahir di Pekojan, Jakarta Barat pada tanggal 17 Rabi’ul Awwal 1238 H atau 1822 M. Ayahnya adalah Abdullah bin Aqil bin Syech bin Abdurahman bin Aqil bin Ahmad bin Yahya. Sedangkan ibunya adalah Aminah binti Syekh Abdurahman Al-Misri. Beliau pergi ke Mekah untuk menunaikan ibadah Haji, tetapi kemudian bermukim di sana selama 7 tahun dengan maksud memperdalam ilmunya. Guru utama beliau adalah ayahnya sendiri. Sedangkan ketika berada di Mekah beliau belajar/berguru pada sayyid Ahmad Zaini Dahlan ( Mufti Mekah ). Pada tahun 1848 beliau berangkat pula ke Hadramaut untuk balajar pada guru-gurunya :

1.Syekh Abdullah bin Husein bin Thahir

2.Habib Abdullah bin Umar bin Yahya

3.Habib Alwi bin Saggaf Al-Jufri

4.Habib Hasan bin Shaleh Al-Bahar.

Dari Hadramaut beliau berangkat pula ke Mesir dan belajar di Kairo walaupun hanya untuk 8 bulan. Kemudian meneruskan perjalanan lagi ke Tunis ( berguru pada Syekh Abdullah Basya ), Aljazair ( belajar pada Syekh Abdurahman Al-Magribhi ), Istanbul, Persia dan Syiria. Maksud beliau berpergian dari satu negeri ke negeri lain adalah untuk memperoleh dan mendalami bermacam-macam ilmu seperti ilmu fiqh, tasawuf, tarikh, falak, dan lain-lain. Setelah itu beliau kembali ke Hadramaut.

Pada tahun 1862 M./1279 H. kembali ke Batavia dan menetap di Batavia hingga wafat pada tahun 1331 H./1913 M. Habib Usman diangkat menjadi Mufti menggantikan mufti sebelumnya, Syekh Abdul Gani yang telah lanjut usianya, dan sebagai Adviseur Honorer untuk urusan Arab ( 1899 – 1914 ) di kantor Voor Inlandsche Zaken. Sebagai seorang Ulama, Habib Usman ini sangat produktif mengarang buku. Walaupun buku-buku karangannya pendek-pendek, sekitar 20 halaman saja, tetapi banyak mengenai pertanyaan yang sering timbul dalam masyarakat Muslim tentang syariat Islam. Beberapa buku karangannya, yaitu : Taudhih Al-Adillati ‘ala Syuruthi Al-Abillah, Al-Qawanin Asy-Syar’iyah li Ahl Al-Majalisi Al-Hukmiyah wal Iftaiyah , Ta’bir Aqwa ‘adillah, Jam Al-Fawaid, Sifat Dua Puluh, Irsyad Al-Anam, Zahr Al-Basyim,Ishlah Al-Hal, Al-Tuhfat Al-Wardiah, Silsilah Alawiyah, Al-Thariq Al-Shahihah, Taudhih Al-Adillah , Masalik Al-Akhyar, Sa’adat Al-Anam, Nafais Al-Ihlah, , Kitab Al-Faraid, , Saguna Sakaya, Muthala’ah, Soal Jawab Agama, Tujuh Faedah, Al-Nashidat Al-Aniqah, Khutbah Nikah, Al-Qu’an Wa Al-Dua, Ringkasan Ilmu Adat Istiadat, Ringkasan seni membaca Al-Qur’an, Membahasa Al-Qur’an dan Kesalahan Dalam Berdo’a, , Perhiasan, Ringkasan Unsur-unsur Do’a, Ringkasan Tata Bahasa Arab, Al-Silisilah Al-Nabawiyah, Atlas Arabi, Gambar Mekah dan Madinah, Ringkasan Seni Menentukan Waktu Sah Untuk Shalat, Ilmu kalam, Hukum Perkawinan, Ringkasan Hukum Pengunduran Diri Istri Secara Sah, Ringkasan Undang-Undang Saudara Susu, Buku Pelajaran Bahasa dan Ukuran Buku, Adab Al-Insan, Kamus Arab Melayu, Cempaka Mulia, Risalah Dua Ilmu, Bab Al-Minan, Hadits Keluarga, Khawariq Al-Adat, Kitab Al-Manasik dan Ilmu Falak.

Dalam bukunya Risalah Dua Ilmu beliau membagi Ulama menjadi 2 macam yaitu Ulama Dunia dan Ulama Akhirat. Ulama dunia itu tidak Ikhlas, materialistis, berambisi dengan kedudukan, sombong dan angkuh, sedangkan Ulama akhirat adalah orang yang ikhlas, tawadhu’, yang berjuang mengamalkan ilmunya tanpa pretensi apa-apa, lillahi ta’ala, hanya mencari Ridho Allah semata.

Anggapan orang bahwa Habib Usman seorang yang anti tarekat adalah tidak benar, sebab beliau belajar tasawuf dan Ilmu Tarekat di Hadramaut dan Mekah. Kalau Memang Habib Usman menentang itu, tentulah tarekat yang menyimpang dari Agama. Habib Usman belajar ke Mesir, Tunis, Aljazair, Yordania dan Turki, selain ke Mekah dan Hadramaut. Karena itu kalau dikatakan bahwa beliau berpakaian modern itu bisa diterima karena banyak pergaulannya. Karena ilmunya yang luas maka diangkatlah beliau menjadi mufti Betawi oleh pemerintah Hindia Belanda.

Sumber dari buku Menelusuri Silsilah Suci Bani Alawi – Idrus Alwi Almasyhur

Al-Habib Umar bin Muhammad bin Hud Al-Attas (Cipayung, Indonesia)

Posted by MAJELIS DZIKIR ASMAUL HUSNA RHOTIB SYAMSI SYUMUS KUDUS On Categories:

Di kediamannya di Jl Condet Raya, Jakarta Timur, Habib Umar Alatas, seorang kiai sepuh yang telah berusia 108 tahun tampak tidur telentang hampir tidak bergerak. Hanya matanya saja yang selalu terpejam, sesekali berusaha menatap mesra kepada para tamunya yang tidak henti-hentinya berdatangan. Baik para tokoh habaib, ulama maupun kiai, hingga masyarakat kurang mampu.

Di kamarnya yang cukup luas itu, di antara para tamu itu, bukan saja datang dari Jakarta. Tapi juga dari berbagai tempat di Tanah Air, sambil membacakan surat Yasin agar Allah mempercepat kesembuhan ulama tertua di Tanah Air ini.

Sejak habis mengadakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di pesantrennya di Cipayung, Bogor, 18 Juli lalu, kondisi habib memburuk karena sakit tua. Dan hingga kini keadaannya masih antara sadar dan tidak sadar,” kata Haji Ismet Alhabsji, seorang yang dekat dan merupakan kepercayaan habib Umar kepada Republika Selasa (27/7). Pada acara maulid di Cipayung, yang sudah 17 tahun diselenggarakan di tempat ini, menurut Ismet, Habib Umar sudah tidak bisa hadir lagi di tengah-tengah jamaah yang jumlahnya puluhan ribu orang. Ia hanya mengikuti dari kamarnya.

Setelah acara maulid Nabi, Habib Umar yang fisiknya dalam keadaan lemah itu sudah tidak sadarkan diri lagi. Bahkan, saat dibawa kembali ke kediamannya di Condet, dia ditidurkan di mobil dan diinfus,” kata Ismet yang selama belasan tahun dekat dengan habib Umar.

Rupanya, sakitnya ulama tertua di Jakarta ini cepat luas tersebar. Dan mengingat begitu antusiasnya masyarakat yang ingin menjenguknya, maka sejak minggu lalu kediamannya di Condet menjadi semacam open house, terbuka hampir sepanjang hari.

Habib Umar, kata Alwi Edrus Alaydrus, salah seorang cucunya memang terbuka, mengulurkan tangan serta menyambut dengan baik tiap tamu yang datang ke kediamannya. Tidak membedakan status dan kedudukan mereka. Apakah rakyat kecil, atau pejabat tinggi negara, kata Alwi Edrus.

Karenanya tidak heran, di antara penjenguk terdapat artis-artis seperti Elvie Sukaesih dan putrinya Fitria, Muchsin Alatas dan istrinya Titiek Sandhora serta putranya Bobby.

Seperti hari Senin (26/7) lalu. Pengunjung dari Jakarta dan luar kota tampak lebih banyak lagi yang mendatanginya. Karena waktu itu, entah dari mana asalnya, Habib Umar diisukan telah meninggal dunia. Sedangkan para murid dan pengikutnya, di Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam yang mengetahui sakitnya, terus memantau kesehatannya.

“Mereka minta kepada kita agar cepat diberitahukan bila terjadi apa-apa dengan Habib Umar,” kata Alwi Edrus. “Mereka menyatakan kepada saya siap untuk datang ke Jakarta bila terjadi apa-apa dengan habib.” Sedangkan Ismet menambahkan, mereka terus memantau kesehatan Habib Umar, karena tahu kalau beliau sakit. Pasalnya, mereka hadir pada waktu peringatan maulid yang baru lalu.

Banyaknya umat Islam dari mancanegara yang selalu datang tiap tahun ke acara maulid Habib Umar, karena ia pernah tinggal di Singapura dan Malaysia selama beberapa tahun. Selama di kedua negara itu, Habib Umar rupanya punya berpengaruh besar di kalangan masyarakat dan pejabat pemerintahan. Hingga tidak heran, kalau banyak ulama dan pejabat di Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam menjadi akrab dengannya.

Seperti dikatakan oleh Alwi Edrus, Sultan Johor, Tengku Mahmudsyah sudah beberapa kali mendatangi habib Umar selama berada di Jakarta. Pada tahun 1993 dan 1994, sultan dan keluarga datang dengan menggunakan pesawat pribadi. “Tentu saja, kedatangan sultan Johor itu membuat repot pemerintah RI, yang terpaksa mengerahkan protokol dan pengawal dari kepresidenan,” kata salah seorang pihak keluarga.

Habib, yang kelahiran Hadramaut, Yaman Selatan, sejak usia muda telah datang ke Indonesia. Mula-mula tinggal di Kwitang, Jakarta Pusat. Di sini, sambil berdakwah, ia juga berjualan kain di Pasar Tanah Abang. Kemudian membuka pengajian dan majelis maulid di Cicurug, Sukabumi, Jawa Barat.

Pada tahun 1950-an, ia ke Mekkah dan bermukim selama beberapa tahun. Tapi, sayangnya, saat hendak kembali ke Indonesia, ia tertahan di Singapura. Pasalnya, pada awal 1960-an terjadi konfrontasi antara RI – Malaysia, sementara Singapura merupakan bagian negara itu. Habib Umar baru kembali ke Tanah Air setelah usai konfrontasi, pada awal masa Orde Baru.

Tapi, rupanya banyak hikmah yang diperolehnya di balik kejadian tersebut. Karena, selama lebih dari lima tahun di Malaysia dan Singapura, ternyata ia sangat dihormati oleh umat Islam setempat. Termasuk Brunei Darussalam.

Seperti dikatakan oleh pihak keluarga, Habib Umar bukan saja dihormati oleh Sultan Johor, tapi sultan-sultan lainnya di Malaysia. Sedangkan di antara pejabat Malaysia yang sering mendatangi kegiatan Habib Umar di Indonesia, di antaranya Menteri Pendidikan Naguib Tun Razak.

Sedangkan dari Singapura, Achmad Mathar, Menteri Lingkungan Hidup juga beberapa kali mendatangi Habib Umar. Juga menteri dari Brunei, termasuk beberapa anggota kerajaannya. Sedangkan menurut Haji Ismet, mereka itu umumnya datang ke Habib Umar, bukan pada saat-saat peringatan maulid.

Habib Umar sendiri banyak dikenal oleh pejabat, baik sipil maupun militer di Tanah Air yang pernah berkunjung kepadanya. “Tapi, kita tidak mau menyebutkannya,” kata Alwi Edrus.

Baik para tamu luar negeri, maupun para pejabatnya datang ke Habib Umar atas kemauan sendiri untuk berziarah. Habib sendiri tidak pernah mengundang dan mendatanginya. Karena ia berprinsip, ulama atau ilmu didatangi, bukan mendatangi.

Maulid Internasional

Maulid Nabi di Cipayung, yang tiap tahun dihadiri sekitar 100.000 jamaah, termasuk ratusan jamaah dari mancanegara, tidak heran hingga oleh banyak pihak dianggap sebagai maulid internasional.

Setidak-tidaknya acara maulid habib Umar tiap tahun ini sudah menjadi agenda di beberapa negara, khususnya Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Mereka tahu sendiri kapan acara itu diselenggarakan, dan kami tidak pernah mengundangnya lagi,” ujar Ismet.

Habib Umar sendiri, yang kini dalam keadaan uzur akibat usianya yang sudah sangat lanjut, sudah dua tahun ini tidak banyak lagi terlibat dalam menangani kegiatan maulid. Acara ini dan acara-acara keagamaan lainnya, kini dipimpin oleh putranya, Habib Salim Alatas (60).

Dahulunya, kata H Ismet, tiap kegiatan maulid beliau sendiri yang menanganinya. Termasuk upaya-upaya untuk menyediakan persediaan makan dan lauk pauk bagi puluhan ribu jamaah yang hadir. “Kalau ditanya oleh orang dari mana dananya, habib Umar selalu bilang dari Allah,” ujar Ismet.

Ihwal persediaan makan untuk para jamaah yang menghadiri maulid ini, Alwi Edrus menyatakan, dua tahun lalu tidak kurang dari 1.400 ekor kambing dan dua ekor sapi yang dipotong. Sedangkan beras yang digunakan untuk memasak nasi kebuli sebanyak 11 ton. Yang kesemuanya ditangani oleh seribu tukang masak.

Khusus untuk para tamu luar negeri yang berjumlah sekitar 400-500 jamaah, menurut Ismet, mereka disediakan tempat penginapan khusus di Cipayung, rumah Mayjen TNI (Purn) Eddie Marzuki Nalapraya, yang juga sering mendampingi Habib Umar.

“Selama empat atau lima hari mereka di Cipayung, mulai dari sarapan pagi, makan siang dan malam, ditanggung dari kocek Habib Umar sendiri. Paling-paling mereka mengeluarkan uang untuk tiket. Mereka, biasanya datang berombongan. Tiap kepala rombongan ada yang membawa 10-15 orang.

Memang, kegiatan Habib Umar lebih-lebih sebelum menderita sakit, cukup padat. Di kediamannya di Condet, tiap hari terdapat sekitar 300 jamaah subuh. Khusus pada hari Jumat, meningkat menjadi sekitar 1.000 orang. Khusus Sabtu subuh, mereka diberikan pelajaran fikih dari sejumlah ulama terkenal. Sedangkan di Cipayung, tiap Kamis malam diadakan pembacaan maulid Diba.

Yang unik, setelah mengikuti kegiatan, para jamaah selalu makan bersama yang dijamu oleh Habib Umar. Tidak peduli pada masa krismon sekarang, jamuan makan yang berlangsung sejak lama itu tidak pernah henti. Menu makanannya hampir selalu nasi uduk berikut lauknya, seperti tahu dan telur.

Sesuatu yang mungkin lain dibandingkan dengan acara-acara di majelis lain adalah, acara-acara di Habib Umar, termasuk Maulud Nabi tidak ada pidato-pidato. Acaranya sangat simple, yakni baca maulud, zikir dan ditutup dengan do’a. Ismet menjelaskan, tidak adanya pidato-pidato yang sudah tradisi sejak lama itu, karena habib takut akan menimbulkan saling serang dan fitnah memfitnah.

Selama belasan tahun dekat dengan ulama Betawi ini, Ismet meyakini, bahwa Habib Umar untuk kegiatan-kegiatan keagamaan tidak pernah mau meminta sumbangan. “Kalau pun orang mau memberi hadiah, harus benar-benar ikhlas. Kalau tidak dia akan menolaknya. Apalagi kalau sumbangan itu punya tujuan khusus.” Karena itulah, kata Ismet, tidak ada satu pejabat pun yang bisa mempengaruhi Habib Umar.

Sedangkan bagi KH Zainuddin, seorang ulama Betawi yang tiap Ahad memberikan ceramah di Majelis Taklim Kwitang berpendapat, kecintaan para kiai dan ulama Betawi terhadap Habib Umar, karena ia adalah seorang yang saleh, berakhlak mulia dan penuh keberkahan.

“Para kiai mendatangi Habib Umar bukan sekali-kali untuk menyembahnya, tapi untuk mendapatkan berkah dan doanya,” ujar kiai, yang juga anggota MPP Partai Amanat Nasional (PAN) itu.

Yang juga menarik dari pesan-pesan Habib Umar kepada mereka yang mendatanginya, sangat sederhana sekali. Seperti anjuran untuk berbakti kepada kedua orangtua, lebih mendekatkan diri kepada Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Penyanyi Muchsin Alatas sendiri merasa sangat terkesan akan keramahtamahannya. “Saya merasakan seolah-olah saya dan keluarga dianggap sebagai anaknya sendiri,” kata Muchsin yang mengaku hatinya lebih tenteram dan sejuk setelah bertemu Habib Umar.

H Marullah (65), yang rumahnya tidak berjauhan dengan kediaman Habib Umar, terkesan dengan cara bertetangga yang baik. Karena rumah habib selalu terbuka dan dapat didatangi tiap waktu. “Habib menganggap semua orang yang datang kepadanya adalah orang-orang baik, tidak peduli orang itu preman sekalipun,” kata putra asali Betawi ini.

Menurut Ismet, Habib Umar sejak beberapa tahun lalu telah mewakafkan tempat kegiatan keagamaannya di Cipayung yang luas itu untuk kegiatan-kegiatan Islam. Untuk itu, di tempat ini tengah dibangun sebuah pesantren terpadu Hamid Umar bin Hoed Alatas, dan sudah mulai beroperasi mulai 8 Agustus mendatang. Pesantren terpadu ini didirikan oleh Yayasan Pendidikan Islam Assaadah, yang diketuai oleh Alwi bin Edrus Alaydrus. Sedangkan pendirinya Habib Umar, Mayjen TNI (Pur) Eddie Nalapraya dan H Ismet Alhabsji. Pesantren ini dibangun melalui tiga tahap, yang seluruhnya akan menelan biaya Rp 14,5 miliar.

Di samping mewakafkan tanah dan pesantren di Cipayung, menurut Ismet, habib juga berwasiat bila ia meninggal dunia agar dimakamkan di makam wakaf Al-Hawi, Kalibata

dipetik dari: Republika Online edisi: 30 Jul 1999 oleh Alwi Shahab

——————————————————————————————————————————
Al-Habib Umar bin Muhammad bin Hud Al-Athos

Habib Umar Bin Hud Al Athos adalah seorang ulama dan konon beliau juga seorang wali quthub usianya lebih dari 100 tahun dilahirkan di penghujung abad ke 19 di Hadramaut, Yaman Selatan. Sejak usia muda beliau telah datang ke Indonesia. Mula-mula tinggal di Kwitang, Jakarta Pusat. Beliau berdakwah sambil berjualan kain di Pasar Tanah Abang. Kemudian membuka pengajian dan majelis maulid di Cicurug, Sukabumi, Jawa Barat. Sekitar tahun 1950-an, Beliau ke Mekkah dan bermukim selama beberapa tahun dan selama di mekkah beliu menggunakan kesempatan tersebut untuk belajar kepada ulama-ulama setempat. Tapi, sayangnya, saat hendak kembali ke Indonesia, ia tertahan di Singapura.

Pasalnya, pada awal 1960-an terjadi konfrontasi antara RI dan Malaysia, sementara Singapura masih merupakan bagian negara itu. Habib Umar baru kembali ke Tanah Air setelah usai konfrontasi, pada awal masa Orde Baru. Tapi, rupanya banyak hikmah yang diperoleh di balik kejadian tersebut. Karena, selama lebih dari lima tahun di Malaysia dan Singapura, ternyata beliau sangat dihormati oleh umat Islam setempat, termasuk Brunei Darussalam.

Karenanya tidak heran kalau orang menyebut Maulid Nabi yang diselenggarakan Habib Umar di Cipayung sebagai maulid internasional. Maulid ini dihadiri sekitar 100.000 jamaah, termasuk ratusan jamaah dari mancanegara. Untuk perjamuan makanan untuk para jamaah yang menghadiri maulid ini diperlukan ribuan ekor kambing dan berton-ton beras. Kalau ditanya orang dari mana dananya, maka Habib Umar selalu bilang dari Allah.

Sesuatu yang mungkin lain dibandingkan dengan acara-acara maulud di majelis lain adalah, tidak ada ceramah-ceramah setelah baca maulud. Acaranya langsung saja yakni baca maulud, zikir dan ditutup dengan do’a. Tidak adanya ceramah-ceramah yang sudah tradisi sejak lama itu, karena Habib Umar khawatir akan menimbulkan saling serang dan fitnah.

Kegiatan rutin Habib Umar yang lain yang memasyarakat adalah shalat subuh berjamaah di kediamannya di Condet. Setiap hari terdapat sekitar 300 jamaah subuh yang datang. Khusus pada hari Jumat, jamaahnya meningkat menjadi sekitar 1.000 orang. Setiap Sabtu mereka para jama’ah diberikan pelajaran Fiqih sedangkan di Cipayung bogor tiap kamis malam diadakan pembacaan maulid diba’ dan yang menarik adalah setelah diadakan kegiatan tersebut para jama’ah dijamu oleh Habib Umar Bin Hud seperti nasi uduk lengkap dengan lauk-pauknya. Habib Umar meninggal dunia pada bulan Agustus 1999 di rumahnya dan dimakamkan di Wakaf al-Hawi dekat dengan pusat perbelanjaan PGC cililtan sesuai dengan wasiat beliau.

http://www.habaib.org/index.php?hb=pp2&idm=5&d=2

Al-Habib Umar bin Abdurrahman Al-Atthas(Shohiburrotib Al-Haddad)

Posted by MAJELIS DZIKIR ASMAUL HUSNA RHOTIB SYAMSI SYUMUS KUDUS On Categories:

Sang Penyusun Ratib Al-Atthas

Karamahnya sudah tampak sejak dalam kandungan ibundanya. Meski kehilangan penglihatan sejak kecil, ia giat menuntut ilmu. Dialah salah seorang ulama besar Hadramaut.
Di Hadramaut ada seorang ulama besar, seorang wali, yang sangat termasyhur karena karamah-karamahnya. Dialah Habib Umar bin Abdurrahman Al-Atthas, lahir pada 992 H/1572 M di Desa Lisk, dekat kota Inat, Hadramaut. Dialah pula yang mula-mula mendapat gelar Al-Atthas, “orang yang bersin”. Disebut demikian karena, konon, ketika masih berada dalam kandungan ibundanya, Syarifah Muznah binti Muhammad Al-Jufri, ia sering bersin. Janin yang masih dalam kandungan, dan bisa bersin, tentulah luar biasa. Dan itulah karamah pertama Habib Umar.
Meski sejak kecil ia sudah kehilangan penglihatan, Allah SWT menerangi kalbunya sehingga ia mampu menyerap dengan baik segala pengetahuan tentang agama yang diajarkan oleh ayahandanya, Al-Imam Abdurrahman bin Aqil. Semangat belajarnya memang sangat besar. Tak jemu-jemunya ia menuntut ilmu kepada beberapa ulama besar, seperti Syekh Abu Bakar bin Salim, Muhammad bin Abdurrahman Al-Hadi, Syekh Umar bin Isa As-Samarqandi. Sementara guru utama yang paling ia hormati ialah Habib Husein bin Syekh Abubakar bin Salim.
Ia banyak belajar tasawuf, terutama dari Syekh Umar bin Isa Barakwah As-Samarqandi. Setelah merasa cukup menuntut ilmu, ia membuka taklim dengan mengajarkan ilmu agama. Dakwahnya pun menyebar ke segenap penjuru Hadramaut.
Belakangan ia dikenal sebagai seorang sufi yang banyak menguasai ilmu lahir dan batin, pengayom anak yatim piatu, janda, dan fakir miskin. Siang mengajar, malamnya ia gunakan untuk melakukan riyadhah, beribadah, bermunajat kepada Allah SWT, dan sangat jarang tidur.
Sebagai ulama besar dan sufi, Habib Umar dikenal dengan beberapa karamahnya. Ia sangat termasyhur, bahkan sampai ke negari Cina. Suatu hari, salah seorang anak Habib Abdurrahman melawat ke Cina. Di sana ia bertemu seorang sufi yang memberi salam dan hormat, padahal ia tidak mengenalnya.
”Bagaimana engkau mengenalku, padahal kita belum pernah berjumpa?” tanyanya.
”Bagaimana aku tidak mengenal engkau? Ayahmu, Habib Umar bin Abdurrahman Al-Atthas, adalah guru kami, dan kami sangat menghormatinya. Habib Umar sering datang ke negeri kami dan ia sangat terkenal di negeri ini,” jawab sufi tersebut. Padahal jarak antara Hadramaut dan Cina sangat jauh, namun Habib Umar telah berdakwah sampai ke sana.
Syekh Muhammad Baqais, salah seorang muridnya, bercerita, ”Satu kali Habib Umar mendamaikan beberapa suku yang berperang sampai berkali-kali. Tapi, tetap saja ia tidak mendapatkan tanggapan baik. Karena itu beliau pun melemparkan biji tasbihnya kepada mereka. Dengan izin Allah biji tasbih itu menjadi ular. Barulah mereka sadar dan mohon maaf.”
Nama Habib Umar tak bisa dipisahkan dari karya agung yang diberinya judul ‘Azizul Manal wa Fathu Babil Wishal, alias “Anugerah nan Agung dan Pembuka Pintu Tujuan” – yang di belakang hari sangat terkenal sebagai Ratib Al-Atthas. Habib Umar sendiri berwasiat, “Rahasia dan hikmah telah kutitipkan di dalam ratib itu.”

Melindungi Kota
Menurut Habib Abdurrahman Al-Habsyi (Kwitang, Jakarta Pusat), Ratib Al-Aththas lebih tua dibanding Ratib Al-Haddad. Ratib Al-Haddad disusun pada 1071 H/1651 M oleh Habib Abdullah Al-Haddad, atau sekitar 350 tahun lalu, sedang Ratib Al-Atthas disusun jauh sebelumnya. Ada beberapa wirid atau doa yang tidak ada dalam Ratib Al-Atthas tapi terdapat dalam Ratib Al-Haddad, demikian pula sebaliknya. Namun, seperti ratib-ratib yang lain, keduanya tetap mengacu pada doa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.
Ratib Al-Atthas biasa dibaca usai salat Magrib, tapi boleh juga dibaca setiap pagi, siang, atau tengah malam. Bisa dibaca sendiri atau secara berjemaah. Manfaat ratib ini sangat besar. Bahkan ada sebagian ulama yang mengatakan, dengan membaca Ratib Al-Atthas atau Ratib Al-Haddad setiap malam, Allah SWT akan menjaga dan memelihara seluruh penghuni kota tempat tinggal kita, menganugerahkan kesehatan, dan mengucurkan rezeki-Nya kepada segenap penduduk.
Dalam keadaan sangat khusus dan mendesak, ratib tersebut bisa dibaca tujuh hingga 41 kali berturut-turut. Pendapat ini mengacu pada beberapa hadis Rasulullah SAW tentang manfaat istigfar dan doa-doa lainnya. Sebab, dalam ratib-ratib tersebut antara lain terdapat selawat, tahlil, tasbih, tahmid, dan istigfar.
Begitu hebat fadilah atau keutamaan ratib-ratib itu, hingga Habib Husein bin Abdullah bin Muhammad bin Muhsin bin Husein Al-Atthas menyatakan bahwa mereka yang mengamalkan ratib tersebut tidak akan terluka jika pada suatu hari terpatuk ular. “Orang yang biasa mengamalkan ratib-ratib itu tidak akan merasa takut, ia akan selamat dari segala yang ditakuti,” katanya.
Betapa hormat para ulama kepada Habib Umar bin Abdurrahman Al-Atthas. Tergambar ketika suatu hari seorang ulama, Syekh Salim bin Ali, mengunjungi Imam Masjidilharam, Habib Muhammad bin Alwi Assegaf, dan menyampaikan salam dari Habib Umar. Seketika itu juga Habib Muhammad pun menundukan kepala sejenak, lalu katanya, ”Layaklah setiap orang menundukkan kepala kepada Habib Umar. Demi Allah, saya mendengar suara gemuruh di langit untuk menghormati beliau. Sementara di bawah langit ini tidak ada orang lebih utama daripada beliau.”
Habib Umar bin Abdurrahman Al-Atthas wafat pada 23 Rabiulakhir 1072 H/1652 M, dan jenazahnya dimakamkan di Hadramaut. Sampai sekarang, makamnya selalu dikunjungi banyak peziarah dari berbagai belahan dunia.

—————————————————————————————–

Di ruangan ini, akan dicatatkan serba sedikit riwayat hidup al-Habib Umar bin Abdul Rahman al-Attas, seorang ulama dan wali besar di negeri Hadhramaut, yang merupakan pengasas ratib al-Attas.

Dipetik dari:

+

Biografi al-Habib Umar bin Abdurrahman al-Attas, oleh Thohir bin Abdullah al-Kaf, terbitan Daar al-Muhajir

+

Ringkasan Sejarah al-Habib Umar ibn Abdurrahman al-Attas: dalam rangka peringatan Haul yang ke-347 al-Imam al-Arif Billah al-Qutb Rabbani Tahyyibul Anfas al-Habib Umar bin Abdurrahman al-Attas

+

Kelebihan Ratib: Huraian Ratib al-Habib Umar bin Abdul Rahman al-Attas, oleh Syed Hassan bin Muhammad al-Attas, Masjid Ba’alwi Singapura, terbitan Hamid Offset Service

Nasab al-Habib Umar bin Abdul Rahman al-Attas

Nama beliau adalah Umar bin Abdurrahman bin Agil bin Salim bin Ubaidullah bin Abdurrahman bin Abdullah bin Syeikh al Ghauts Abdurrahman as-Seggaf bin Muhammad Maulah Dawilah bin Ali bin Alawi al Ghoyur bin Sayyidina al Faqih al Muqaddam Muhammad bin Ali binl Imam Muhammad Shahib Mirbath bin Ali bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidullah bin Imam al Muhajir Ahmad bin Isa bin Muhammad an Naqib binl Imam Ali al Uraidhi bin Jaafar as Shadiq binl Imam Muhammad al Baqir binl Imam Ali Zainal Abidin binl Imam Hussein as Sibith binl Imam Ali bin Abi Thalib dan binl Batul Fatimah az-Zahra binti Rasullullah S.A.W.

Asal dinamakan ‘Al Attas’

Kata al-Faqih Abdullah bin Umar Ba’ubad:
“Beliau dinamakan al-Attas yang bermaksud bersin, kerana beliau pernah bersin ketika masih berada di dalam perut ibunya”. Kata al- Habib Ali bin Hassan al-Attas: “Sebenarnya apa yang diucapkan oleh Syeikh al-Faqih Abdullah bin Umar Ba’ubad adalah benar, hanya saja menurut khabar yang paling benar dikatakan bahawa pertama kali bersin ketika masih berada di perut ibunya adalah Habib Aqil yang terkenal hanya Habib Umar bin Abdurrahman al-Attas, sehingga berita itu hanya dikenal pada diri beliau dan anak beliau dan anak cucu Aqil dan Abdullah, saudara beliau. Sedangkan anak cucu Sayyidina Aqil bin Salim yang lain dikenal dengan nama keluarga Aqil bin Salim”.

Berkata al-Habib Ali bin Hassan: “Tidak henti-hentinya didengar dari mereka suara bersin di perut-perut sebahagian ibu waktu demi waktu, sebagaimana yang diberitahukan oleh isteriku, seorang wanita solehah. Syeikha binti Sahal bin Abi Bakar bin Syaiban bin Ahmad bin Ishaq, katanya: “Pada suatu hari sewaktu aku duduk bersama Sharifah Fatimah bin Habib Muhammad Basurah Ba’alawi, waktu itu aku sedang mengandung puteramu yang bernama al Hasan yang pertama, aku terdengar ia bersin ketika ia masih di dalam perutku, aku dan Sharifah Fatimah mendengar suara bersin itu dengan jelas, dan ia dilahirkan pada waktu 1147 H, tetapi ia wafat waktu masih kecil”.

Al Habib Ali bin Hussain al-Attas menyebutkan di dalam kitabnya Ta’jul A’raas juz pertama halaman 40. bahawa di Mekah pernah didengar suara bersin ddari anak yang masih di dalam perut ibunya, tentunya kejadian itu termasuk kejadian karamah yang diakui oleh kalangan Ahlu Sunnah, sebagaimana yang disebutkan di dalam kitab-kitab Tauhid dan Aqoid mereka beserta dalil-dalilnya yang terkenal yang bersumber dari al-Quran dan as-Sunnah.

Imam Nawawi pernah menyebutkan di dalam kitabnya Riyaadhus Shalihin di dalam bab al-Karamat. Disebutkan dalam kitab itu sebuah hadith yang memberitakan kisah seorang rahib yaang bernama Juraij, yang kerananya Allah menakdirkan seorang bayi bercakap-cakap untuk memberikan kesaksian tentang diri Juraij, tentunya bersin ketika seorang bayi masih di dalam kandungan ibunya tidak berbeza jauh dengan seorang bayi yang bisa bercakap-cakap setelah ia lahir, kejadian-kejadian semacam ini tidak sulit bagi Allah sebab Allah Maha Kuasa untuk mentakdirkan apa saja yang Dia kehendaki.

Kelahiran dan tempat diasuhnya al-Habib Umar bin Abdul Rahman al-Attas

Beliau dilahirkan di desa Lisk dekat dengan desa Ainat, di bahagian bawah negeri Hadhramaut, di akhir abad ke-10, tepatnya pada tahun 992H. Sejak kecilnya beliau diasuh dan dididik oleh ayah beliau sendiri, al-Habib Abdul Rahman bin Aqil. Meskipun mata beliau buta sejak kecil, tetapi Allah memberinya kecerdasan otak dan pandangan hati ( Bashirah ), sehingga beliau mudah menghafal apa saja yang pernah didengarnya.

Ayah beliau, al-Habib Abdul Rahman bin Aqil pernah berkata pada Syeikh Abdurrahman bin Aqil al-Junied Bawazir yang dikenal dengan panggilan al-Mu’allim: “Hendaknya anda lebih banyak memberikan perhatian kepada Umar, kerana kedua matanya tidak dapat melihat”. Jawab Syeikh Abdurrahman: “Meskipun kedua mata Umar tidak dapat melihat, tetapi pandangan Bashirahnya dapat melihat, disebabkan hatinya bersinar”.

Sejak kecil beliau anak yang tekun beribadah, hidup zuhud berpaling dari dunia dan sejak kecil sudah terlihat tanda-tanda kebesaran pada diri beliau. Sejak kecil, beliau sering ke kota Tarim dari dusunnya Lisk dan melakukan sholat dua rakaat di setiap masjid yang ada di kota Tarim, bahkan kadang menimba air dari sumur untuk mengisi kolam-kolam masjid.

Di masa kecilnya, beliau senantiasa dibimbing oleh ayah beliau dan guru-guru beliau, misalnya al-Habib Hussien, al-Habib Hamid, al-Habib Muhdhor, putra-putra Saiyidina Syeikh Abu Bakar bin Salim yang sering dikunjungi oleh ayah beliau, iaitu al-Habib Abdul Rahman bin Aqil.

Ayahanda al-Habib Umar bin Abdul Rahman al-Attas

Al-Habib Abdul Rahman bin Aqil adalah seorang Arif Billah, seorang ulama yang taat menjalani hukum-hukum Allah, beliau tokoh para wali terkemuka, beliau pernah menerima ilmu dan wilayah dari pamannya, iaitu Syeikh abu Bakar bin Salim, pamannya yang satu ini amat cinta kepada Sayyid Abdul Rahman dan kepada ayah beliau iaitu al-Habib Aqil. Al-Habib Aqil adalah saudara sekandung dengan Syeikh abu Bakar bin Salim, yang mana Syeikh Abu Bakar bin Salim ada menyebut tentang saudaranya yang satu ini:

“Apa yang ada di Wali Masyhur ( iaitu dirinya ), tidak lain hanyalah berkat Wali Mastur ( iaitu saudaranyaa yang bernama Aqil )”

Al-Habib Abdul Rahman bin Aqil adalah seorang yang mulia, suci dan hati yang bersih, beliau sering mengunjungi Wadi Amed dan Wadi Kaser, penduduk kawasan-kawasan itu senantiasa menghormatinya, mengagungkannya dan memohon barakah beliau. Beliau mempunyai pelbagai karomah, di antaranya adalah pada suatu hari beliau berkunjung di suatu desa yang ada di Wadi Amed. Ketika itu hujan turun lebat sehingga beliau berkata kepada untanya: “Pergilah engkau dan carilah sebuah tempat berteduh dan akupun akan berbuat yang sama dan besok kita bertemu di desa Qaran bin Adwan”. Keesokan harinya ketika beliau tiba di desa Qaran, maka beliiau tidak mendapati untanya, sehingga beliau bertanya kepada pembantunya: “Ke manakah perginya unta?” Tetapi sang pembantu tidak dapat menemukannya. Pada keesokan paginya, unta itu datang lengkap dengan barang-barangnya.

Ketika al-Habib Abdul Rahman wafat di kota Huraidhah, maka al-habib Umar menyuruh pembantunya untuk membantu pencari tanah yang cocok untuk dijadikan sebagai kuburan ayahnya, akhirnya sang pembantu mendapatkan sebidang tanah yang ditandai dengan sebuah tiang dari cahaya, akhirnya al-Habib Abdul Rahman dimakamkan di temppat tersebut. Biasanya jika al-Habib Umar berziaraah ke makam ayahnya, maka beliau bercakap-cakap dengan ayah beliau dari balik kubur.

Al-Habib Abdul Rahman bin Aqil bernikah dengan dua orang wanita, iaitu Syarifah Muznah binti Muhammad bin Ahmad bin Alawi al-Jufri. Syarifah ini adalah bondaa bagi al-Habib Umar dan saudara-saudara sekandungnya, iaitu al-Habib Abdullah dan al-Hababah Alawiyah. Selanjutnya beliau bernikah dengan seorang wanita ddarri Yemen dari keluarga al-Bathouq salah satu dari kabilah Bani Ahmad iaitu Arobiyah binti Yamani Bathouq. Isteri beliau yang kedua ini melahirkan beberapa orang anak di antaranya Aqil, Sholeh, Musyayakh dan Maryam.

Pada umumnya beliau berdomisili di Lisk, tetapi beliau sering berkunjung ke Ainat, Tarim, Wadi Amed, al-Qaser dan Do’an. Akhirnya beliau ditakdirkan ppindah di Huraidzah beberapa saat sebelum beliau wafat iaitu bertepatan ketika al-Habib Umar telah mendapat petunjuk dari kedua guru beliau iaitu al-Habib Hussein adn al-Habib Hamid putra Syeikh Abu Bakar bin Salim untuk pindah ke Huraidzah. Di desa Huraidzah inilah beliau wafat.

Bonda al-Habib Umar bin Abdul Rahman al-Attas

Bonda beliau berrnama Syarifah Muznah binti Muhammad bin Alawi al-Jufri. Bonda beliau termasuk seorang yang shalih. Dikisahkan bahawa putra Syarifah Muznah meninggal dunia dalam usia kecil, ia bernama Ahmad. Setelah beberapa hari dari saat kematiannya, maka ada seekor burung kecil berwarna hijau yang sering datang mengunjungi Syarifah Muznah ini, sampai beliau berkata. “Jika engkau adalah ruh putraku yang telah wafat, amak ddatanglah ke tanganku”. Setelah Syarifah Muznah menghulurkan tangannya, maka burung kecil itu hinggap ke tangannya dan menciumnya, kemudian beliau melepaskannya kembali, sehingga burung itu terbang dari tangan beliau.

Saudara al-Habib Umar bin Abdul Rahman al-Attas

Beliau mempunyai empat orang saudara lelaki dan dua perempuan. Adapun yang sekandung dengan beliau adalah Abdullah dan Alawiyah, sedangkan Sholeh, Aqil, Musyayakh dan Maryam saudara dari ayah, ibu mereka seorang wanita Yemen dari keluarga Bathouq dari kabilah Bani Ahmad.

Adapun saudaara beliau iaitu al-Habib Abdullah bin Abdul Rahman termasuk seorang tokoh wali yang terkenal, ia pernah melakukan pelbagai latihan riadah dan mujahadah. Dan pergi berdakwah ke gunung Al Yafi’ tempat Bani Yafi’, setelah mendapat izin dari gurunya yang bernama al-Habib Hussein bin Abu Bakar bin Salim dengan disertai oleh pembantunya yang bernama Ali bin Ahmad Harharah Al Yafi’i.

Beliau menetap di desa Ma’zubah, sempat menikah di desa itu dan mempunyai anak cucu. Makam beliau dan anak-anaknya di desa itu banyak diziarahi orang dari berbagai tempat yaang jauh. Mereka diberi berbagai karomah yang tidak sedikit jumlahnya, menurut al-Habib Ali bin Hassan al-Attas, anak cucu beliau, ada seratus orang lebih yang sempat dihitung di waktu Habib Ali masih hidup.

Saudara Habib Umar yang bernama al-Habib Aqil dikenal sebagai seorang ulama yang selalu mengamalkan ilmunya. Al-Habib Aqil ini pernah berguru dari Syeikh Muhammad biin Umar al-Afif di desa al-Hajrain, hingga banyak orang yang menimba ilmu dari beliau setelah beliau kembali ke Huraidzah. Setiap harinya al-Habib Umar menyempatkan diri untuk menghadiri Majlis Ta’lim al-Habib Aqil setiap kali setelah beliau kembali dari makam ayahnya.

Al-Habib Aqil wafat di kala Habib Umar masih hidup. Beliau meninggalkan beberapa putra dan putri. Setelah ayahnya wafat, maka Habib Umar mengasuh mereka dengan sebaik-baik asuhan. Setelah putra-putra Habib Aqil dewasa, maka al-Habib Umar mengawinkan dengan putri-putri beliau.

Adapun Musyayakh termasuk seorang yang sholeh, beliau wafat di masa hidup al-Habib Umar, beliau meninggalkan seorang putri. Adapun Sholeh, ia mempunyai seorang putra bernama Hussein. Adapun saudaranya iaitu Maryam, telah menikah dengan Habib Syeikh bin Abdillah al-Musawa, dan mempunyai beberapa oraang putra.

Pindahnya al-Habib Umar ke kota Huraidhah

Al-Habib Hussein bin Abu Bakar bin Salim sering berkata: “Wahai keluarga Ba’alwi Huraidzah?” Maka dikatakan kepada beliau bahawa tidak seorang pun dari keluarga Ba’alwi yang ada di desa itu, maka ia berkata: “Kelak di desa itu akan didatangi keluarga Ba’alwi, wajah-wajah mereka bagaikan bulan, dan akan memberikan manfaat kepada orang banyak.”

Ketika al-Habib Umar mencapai usia akil baligh, maka guru beliau yang bernama al-Habib Hussein bin Syeikh Abu Bakar bin Salim menyuruh beliau untuk berdakwah ke desa al-Huraidzah. Demikian pula guru beliau yang bernama al-Habib Hamid bin Syeikh Abu Bakar juga menyuruh beliau untuk segera berdakwah di desa al-Huraidzah. Maka dengan bekal perintah dari kedua guru beliau, al-Habib Umar segera berdakwah ke Huraidzah.

Al-Habib Ali bin Hussain al-Attas menyebut di dalam kitab Taajul A’raas juz 2 halaman 111 bahawa pada mulanya al-Habib Umar sering pulang pergi ke Huraidzah. Akhirnya beliau menetap di sana pada tahun 1040 H.

Ketika al-Habib Umar tiba di Huraidzah untuk pertama kalinya, beliau diminta oleh Syeikh Najjaad Adz Dzibyani untuk menetap di rumahnya, dia sangat menghormati beliau dan mengatakan: “Ini rumah-rumahmu” Sehingga Syeikh Najjaad mendapat barakah yang luar biasa dari beliau.

Di desa itu ada seorang wanita yang bernama Sholahah, ia bernazar untuk memberikan hartanya dan bagian dari rumahnya kepada Habib Umar, kemudian al-Habib Umar meminangnya sebagai imbalan atas kebajikannya itu.

Selanjutnya, sebelum al-Habib Umar menetap di desa al-Huraidzah, maka beliau kembali ke desa Lisk lebih dahulu untuk mengajak ayahnya ddan saudara-saudaranya untuk pindah ke Huraidzah. Pada mulanya ajakan al-Habib Umar untuk pindah ke desa Huraidzah ditolak ayah beliau, tetapi setelah keduanya minta pendapat dari al-Habib Hamid dan al-Habib Hussein, maka kedua guru beliau menyuruh al-Habib Abdul Rahman untuk mengikuti minat al-Habib Umar. Keduanya mengatakan: “Wahai Abdul Rahman, pergilah bersama Umar, dan ikuti serta pegangi pendapatnya, sekalipun kau adalah ayahnya dan diia anakmu”. Sehingga al-Habib Abdul Rahman berkata kepada putranya: “Wahai Umar, kalau sekarang kami mau mengikuti pendapatmu , maka lakukanlah apa saja yang terbaik bagi kami”. Selanjutnya seluruh keluarga al-Habib Umar segera meninggalkan Lisk menuju ke desa al-Huraidzah. Ketika rombongan itu tiba di desa Manwab, maka al-Habib Umarr berkata: “Hendaknya kalian melanjutkan perjalanan sampai ke Huraidzah, sebbab aku hendak singgah dulu di tempat isteriku yang ada di desa ini”. Maka rombongan itu meneruskan perjalanannya ke desa al-Huraidzah, sedangakan al-Habib Umar singgah dan menetap di desa Manwab selama satu minggu.

Al-Habib Abdul Rahman, ayah al-Habib Umar mulai merasa sakit setibanya beliau di desa Huraidzah, dan kerana sakit setibanya beliau, maka beliau takut kalau ajalnya tiba, sedangkan Habib Umar tidak ada di sisi beliau, kerana itu ketika al-Habib Umar tiba, maka beliau menegur al-Habib Umar, tetapi al-Habib Umar mengajukan alasannya dan mohon maaf sebesar-besarnya atas keterlambatannya itu, sehingga ayahnya mau memaafkannya.

Dan sakitnya yang menyebabkan ajalnya tiba itu, al-Habib Abdul Rahman merasa takut kalau al-Habib Umar tidak memperhatikan saudara-saudaranya yang masih kecil dari ibu lain, sebab beliau tahu ibu tirinya al-Habib Umar tidak sayang padanya sebagaimana umumnya kaum wanita. Di saat ayahnya risaukan hal itu, maka al-Habib Umar yang mengetahuinya secara Khasaf, maka beliau mendekati ayahnya dan beliau berkata: “Wahai ayahku, tenanglah jangan engkau fikirkan tentang keluargamu, aku Insya-Allah akan menyayangi saudara-saudaraku lebih dari menyayangi diriku sendiri”. Maka hati al-Habib Abdul Rahman menjadi gembira dan beliau mendoakan kebajikan baggi Habib Umar, apalagi di saat itu, beliau sedang menyaksikan alam akhirat, tentu doa seorang ayah yang sholeh bagi anaknya yang sholeh pula, akan sama dengan doa seorang Nabi buat umatnya, apalagi al-Habib Abdul Rahman waktu itu sedang sakit, Rasulullah pernah bersabda: “Jika kalian mengunjungi orang yang sedang sakit, maka mintalah doa bagi kalian”. Al-Habib Umar memenuhi janjinya kepada ayahnya dan beliau sangat memperhatikan kebutuhan saudara-saudaranya, terutama dari segi pendidikan dan pemeliharaannya.

Wafatnya ayahanda al-Habib Umar

Beliau wafat setelah delapan hari tiba di desa al-Huraidzah. Al-Habib Umar sibuk mempersiapkan perawatan jenazah ayah beliau, kemudian beliau menyuruh pembantunya Mahmud an-Najar untuk memilih kubur bagi ayahnya. Ketika Mahmud masuk di perkuburan al-Huraidzah, maka ia dapatkan ada sebuah tanah yang disinari seberkas cahaya langit, maka di tempat itulah al-Habib Abdul Rahman dikuburkan.

Al-Habib Umar rajin berziarah ke makam ayahnya, bahkan tidak seharipun beliau pernah melupakannya. Pada suatu hari al-Habib Umar berkata: “Ketika aku tidak berziarah ke makam ayahku selama beberapa hari, maka aku lihat ayahku dalam mimpiku amat murka kepadaku kerana aku tidak menziarahi beliau selama beberapa hari, aku lihat jasad beliau menjadi besar, sehingga aku sulit untuk berjabat tangan dengan beliau dikeranakan tingginya jasad beliau”.

Hubungan erat antara al-Habib Umar dengan Syeikh Abdullah bin Ahmad al-Afif

Dulu sebelum al-Habib Umar tiba di desa al-Huraidzah, maka penduduknya sangat berkeyakinan kepada kewalian para sesepuh al-Masyaikh dari keluarga al-Afif. Pada suatu hari, penduduknya minta kepada Syeikh Abdullah bin Ahmad al-Afif, seorang wali dan sholeh yang terkemuka, untuk memohonkan air hujan bagi penduduk desa Huraidzah. Kemudian mereka keluar menuju ke suatu kubur wali, kebetulan pada saat itu al-Habib Umar masih baru di desa itu dan masih belum dikenal orang, sehingga penduduknya tidak memberitahu kepada beliau untuk berdoa bersama dengan mereka dan merekapun tidak memberitahu kepada Syeikh Abdullah al-Afif tersebut tentang keberadaan al-Habib Umar, sampai setelah mereka melakukan doa bersama untuk memohon air hujan, lalu terdapat pembicaraan sekitar keberadaan al-Habib Umar, maka Syeikh Abdullah berkata kepada mereka: “Mengapa kalian tidak memberitahukan aku tentang keberadaan al-Habib Umar, mungkin doa kalian tidak akan diterima dan air hujan tidak akan turun”. Kemudian Syeikh Abdullah segera meninggalkan tempat itu, kemudian mendatangi Habib Umar untuk mohon maaf. Kata al-Habib Umar: “Wahai Syeikh Abdullah, desa ini adalah desa kalian dan aku di desa ini hanya orang asing yang baru datang”. Kata Syeikh Abdullah: “Bukan demikian wahai tuanku, bahkan desa ini adalah milikmu dan aku tidak mempunyai hak apapun setelah tuan ada di sini”.

Al-Habib Isa bin Muhammad al-Habsyi berkata: “Memang, al-Habib Umar mempunyai hubungan yang erat dengan Syeikh Abdullah bin Ahmad al-Afif. Dan Syeikh Abdullah pernah berkata kepada beliau: “Memang, Huraidzah adalah desa kami, akan tetapi kami serahkan kepada kamu”. Disebutkan bahawa Syeikh Abdullah pernah minta pakaian (Libas) dari al-Habib Umar, maka kata beliau: “Besarnya rasa cintamu, hal itu sudah cukup”.

Dalam juz kedua di dalam buku Taajul A’raas disebutkan, bahwa al-Habib Ahmad binl Hassan al-Attas pernah menyebutkan tentang kisah Syeikh Abdullah bin Ahmad al-Afif: “Di desa Huraidzah, Syeikh Abdullah al-Afif mempunyai sebuah kebun kurma, ketika al-Habib Umar tiba di desa itu, maka Syeikh Abdullah bernazar untuk memberikan kebun kurma itu kepada al-Habib Umar. Ketika hal itu diutarakan kepada al-Habib Umar, maka beliau berkata kepada penduduk Huraidzah: “Wahai penduduk, bagaimanakah pendapat kalian tentang nazar Syeikh Abdullah?” Jawab penduduk Huraidzah: “Menurut kami, nazar Syeikh Abdullah adalah benar”. Jawab Habib Umar: “Kalau begitu, tanah ini aku terima tetapi aku hadiahkan kembali bagi kalian semua sebagai nazar dari aku, maka terimalah tanah itu dari aku”. Ada seorang di antara mereka yang berkata kepada beliau: “Mengapakah engkau tidak memberikannya kepada keluargamu?” Kata al-Habib Umar: “Kelak anak cucuku akan memiliki desa ini semuanya”.

Guru-guru al-Habib Umar al-Attas

Beliau berguru dari orang-orang yang pernah berguru dari Sayyidina Syeikh Abu Bakar bin Salim, terutama dari putra-putranya, iaitu al-Habib Muhdhor bin Syeikh Abu Bakar, al-Habib Hussein bin Syeikh Abu Bakar dan al-Habib Hamid bin Syeikh Abu Bakar.

Al-Habib Umar juga pernah berguru dari Habib Muhammad bin Abdurrahman al-Hadi, dari Sayyid Umar bin Isa Barakwah as-Samarkandi al-Maghribi yang dimakamkan di desa al-Ghurfah. Demikian pula al-Habib Umar sering mengunjungi Syeikh al-Kabir Ahmad bin Shahal bin Ishaq al-Hainani. Selain itu, beliau sangat erat hubungannya dan selalu mengunjungi Habib Abu Bakar bin Abdurrahman bin Syihab dan Syeikh Abdullah bin Ahmad al-Afif dan Syeikh Ahmad bin Abdul Kadir Ba’syin, Shahib Rubath. Beliau pun sering mengunjungi Habib Abu Bakar bin Muhammad Balfaqih, Shahib Qaidun. Selain itu, beliau gemar mengunjungi orang-orang soleh dari Ahlul Bait maupun dari keluarga al-Masyaikh dan orang-orang yang soleh.

Al-Habib Umar sangat mengagungkan dan menghormati guru beliau yang bernama al-Habib Hussein bin Syeikh Abu Bakar bin Salim. sampaipun, bila al-Habib Umar mendengar nama gurunya yang satu ini disebut orang, maka wajah beliau berubah kerana mengagungkan gurunya yang satu ini, bahkan adakalanya al-Habib Umar bercakap-cakap dengan al-Habib Hussein bin Syeikh Abu Bakar di tengah satu majlis, sedangkan ucapan keduanya tidak dapat dimengertikan orang lain. Syeikh Ali bin Abdillah Baraas berkata: “Al-Habib Umar berkata, pada suatu hari aku mendatangi al-Habib Hussein bin Syeikh Abu Bakar bin Salim dengan maksud untuk mudzakarah tentang tariqah Tasawwuf, kebetulan ketika itu al-Habib Hussein sedang berada di tengah anggota majlis ta’alimnya. Kemudian beliau berkata: “Wahai Umar, seseorang yang tidak mengerti suati isyarat, maka ia tidak akan dapat mengambil manfaat dari ibarat yang terang dan siapa yang menjelaskan kata-kata yang sudah jelas dengan kata-kata yang lebih jelas, ada kalanya dapat menambah pendengarannya makin bertambah bingung”. Selanjutnya al-Habib Umar berkata: “Timbul rasa takut di hatiku bahwa tutur kata guruku setela kata-kata itu sengaja ditujukan bagiku”.

Al-Habib Hussein bin Syeikh Abu Bakar bin Salim sangat menghormati al-Habib Umar, bahkan beliau lebih mengunggulkan al-Habib Umar dari saudara-saudaranya dan kawan-kawannya. Al-Habib Hussein tidak pernah berdiri untuk menghormati orang, seperti halnya untuk al-Habib Umar, hal itu tidak lain dikarenakan tingginya kedudukan Habib Umar.

Pada suatu hari al-Habib Umar bersama sekelompok para tokoh Alawiyin datang ke tempat al-Habib Hussein bin Syeikh Abu Bakar bin Salim, pada waktu itu al-Habib Umar merupakan satu-satunya orang yang paling merendahkan diri dan memakai pakaian ang paling sederhana, ditambah lagi kedua matanya tidak dapat melihat. Ketika al-Habib Hussein melihat al-Habib Umar berada di paling belakang rombongan itu, maka al-Habib Hussein berubah wajahnya, kemudian beliau berkata kepada orang-orang yang terkemuka dari rombongan itu: “Sesungguhnya kalian hanya lebih mengutamakan penampilan lahiriah, dan kalian tidak mau memuliakan orang yang paling mulia menurut kedudukan yang sepantasnya, andakata kalian tahu kemuliaan lelaki ini, iaitu al-Habib Umar, pasti kedudukan kalian tidak ada artinya, leher-leher kalian akan menunuduk dan ruh serta jasad kalian akan rindu kepadanya”. Kemudian beliau menyebutkan keutamaan-keutamaan al-Habib Umar yang menyebabkan mereka berasa betapa kecilnya dirinya masing-masing”.

Silsilah isnad al-Habib Umar dalam menerima hirqah

Al-Habib Umar menerima selendang hirqah dari al-Habib Hussein bin Syeikh Abu Bakar bin Salim, sedangkan beliau menerimanya dari saudaranya iaitu Syeikh Umar al-Muhdhor, beliau menerimana dari ayah beliau, iaitu Syeikh Abu Bakar bin Salim, Shahib Ainat, beliau menerimanya dari Syeikh Syihabudin Ahmad bin Abdurrahman, beliau menerimanya dari ayah beliau, Syeikh Abdurrahman bin Ali, beliau menerimanya dari ayahnya, Syeikh Ali bin Abu Bakar, beliau menerimanya dari ayahnya, Syeikh Abu Bakar Sakran, beliau menerimanya dari ayahnya, Syeikh al-Kabir Abdurrahman as-Seggaf, beliau menerimanya dari ayahnya, iaitu Syeikh Muhammad Mauladawilah, beliau menerimanya dai ayahnya, Syeikh Ali bin Alawi, beliau menerimanya dari ayahnya, Syeikh Alwi bin Faqih al-Muqaddam, beliau menerimanya dari ayahnya, al-Ustadzul A’dzam al-Faqih al-Muqaddam Sayyidina Muhammad bin Ali Ba’alawi.

Adapun sumber penisbatan al-Hirqah dan silsilah isnad bagi Syeikh al-Faqih al-Muqaddam berasal dua jalur, salah satu dari jalur ayah-ayah beliau iaitu beliau dididik dan menerimanya dari ayah beliau, Ali bin Muhammad dan dari paman beliau, Alawi bin Muhammad, keduanya menerima dari ayahnya Muahmmad Syahib Mirbath, beliau menerimanya dari ayahnya, Ali Khali’ Qasam, beliau menerimanya dari ayahnya, Alawi Shahib Samal, beliau menerimanya dari ayahnya, Ubaidillah, beliau menerimanya dari ayahnya, al-Imam Muhajir Ahmad bin Isa, beliau menerimanya dari ayahnya, Isa an-Naqib, beliau menerimanya dari ayahnya, Muhammad, beliau menerimanya dari ayahnya, Ali al-Uraidhi, beliau menerimanya dari ayahnya, al-Imam Ja’far as-Shoddiq, beliau menerimanya dari ayahnya, al-Imam Muhammad al-Baqir, beliau menerimanya dari ayahnya, Ali Zainal Abidin, beliau menerimanya dari ayahnya, al-Imam al-Hussein dan dari pamannya al-Imam al-Hassan, keduanya menerima dari kakeknya Nabi Muhammad SAW, juga dari ayahnya al-Imam Ali bin Abi Thalib sedangkan Nabi SAW menerimanya dari Allah seperti yang beliau katakan:

“Aku dididik oleh Tuhanku dan ia mendidikku dengan sebaik-baik didikan”.

Adapun jalur kedua yang diterima oleh Sayyidina al-Faqih al-Muqaddam Thoriqoh Syuai’biyah iaitu lewat Syeikh Syu’aib Abu Madyan al-Maghribi dengan perantaraan Abdurrahman al-Muq’ad dan Abdullah as-Shaleh. Sedangkan Syeikh Syu’aib Abu Madyan menerimanya dari Syeikh Abu Ya’izza al-Maghrabi, beliau menerimanya dari Syeikh Abul Hasan bin Herzihim atau yang dikenal dengan nama Abu Harazim, beliau menerimanya dari Syeikh Abu Bakar bin Muhammad bin Abdillah binl Arabi dan al-Ghadi al-Mughafiri. Sedangkan binl al-Arabi menerimanya dari Syeikh Imam Hujjatul Islam al-Ghozali, beliau menerimanya dari gurunya, iaitu Imam al-Haramain Abdul Malik bin Syeikh Abu Muhammad al-Juaini, beliau menerimanya dari ayahnya, Abu Muhammad bin Abdullah bin Yusuf, beliau menerimanya dari Syeikh Abu Thalib al-Makki, beliau menerimanya dari Syeikh Syibli, beliau menerimanya dari Syeikh al-Junaid, beliau menerimanya dari pamannya, iaitu as-Sirri as-Siqthi, beliau menerimanya dari Syeikh Ma’ruf al-Karkhi, beliau menerimanya dari gurunya, Syeikh Daud at-Tho’i, beliau menerimanya dari Syeikh Habib al-’Ajmi, beliau menerimanya dari Imam Hasan al-Basri, beliau menerimanya dai Imam Ali bin Abi Thalib, beliau menerimanya dari Rasulullah SAW, beliau menerimanya dari malaikat Jibril, dan beliau menerimanya dari Allah Ta’ala.

Sanad penerimaan kalimat talqin bagi al-Habib Umar

Al-Habib Umar menerimanya talqin kalimat Laa Ilaaha Illallah Muhammadar Rasulullah SAW dari Syeikh al-Arif Billah Assyarif Umar bin Isa Barakwah as-Samarqandi al-Maghrabi.

Syeikh Ahmad bin Abdul Qadir Ba’syin Shahib Rubath berkata: “Syeikh Umar Barakwah menuturkan kepada kita bahawa talqin dzikirnya cabangnya sampai kepada Syeikh Abdul Qadir al-Jailani, sedangkan Syeikh al-Qadir al-Jailani menerima talqin dzikir dari empat ratus orang guru dan guru-guru beliau sanadnya bersambung sampai dengan Sayyidina Hussein bin Ali bin Abi Thalib, semua ahli talqin dzikir bersambung dengan Rasulullah SAW. Keadaannya sama dengan mata rantai yang terjalin erat antara yang satu dengan yang lainnya, sehingga jika mata rantai yang ada paling bawah digerakkan, maka mata rantai yang ada di paling ataspun akan bergerak, demikian pula sebaliknya. Hal itu adalah disebabkan eratnya keterkaitan antara yang satu dengan yang lainnya, sama halnya dengan keterkaitan nasab Ahlul Bait, satu sama lainnya saling terkait erat. Segala puji bagi Allah yang menjadikan mereka suri tauladan yang baik bagi kami dan keterkaitan kamipun dengan mereka masih erat”.

Al-Hakim meriwayatkan dari Saddad bin Aus, ia berkata: “Ketika kami berada di sisi Nabi SAW, maka beliau bersabda:

“Angkatlah tangan-tangan kalian dan ucapkanlah “Lailaha Illallaah”. Setelah kami melakukannya, maka Rasulullah SAW bersabda: “Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengutus aku untuk menyampaikan dan mengikrarkan kalimat Tauhid ini dan Engkau akan memberi Syurga kepada seorang yang mengucapkannya dan Engkau tidak akan memungkiri janji. Selanjutnya beliau bersabda: “Bergembiralah kalian sebab Allah telah memberi ampun kepada kalian”.

Budi pekerti al-Habib Umar al-Attas

Al-Habib Umar al-Attas dikenal sebagai seorang Alim, Amil, Quthub, Ghauts, seorang tokoh sufi, suci, suka memenuhi janji, Murabbi, Rabbani, Da’i, suka mengajak orang ke jalan Allah dengan pandangan yang bersih dan budi pekerti yang luhur, beliau himpun ilmu lahir dan batin. Beliau dikenal sebagai pelindung kaum fakir dan kaum janda serta anak-anak yatim. Beliau senantiasa menyambut dan menggembirakan orang-orang fakir, mereka dimuliakan dan didudukkan pada tempat yang mulia, sehingga mereka sangat mencintai beliau. Beliau dikenal baik oleh kalangan luas banyak sekali beristiqad dengan beliau, dan mempunyai kedudukan yang sangat tinggi, beliau amat tawadhu’ dan merendahkan dirinya kerana merasa diawasi oleh Allah. Beliau selalu menyuruh orang untuk bersabar, khususnya jika cobaan dan bencana sedang menimpa. Beliau sangat bersabar untuk menjalankan aktiviti ibadat.

Beliau al-Habib Umar tidak pernah tidur pada bagian separuh terakhir di malam hari, beliau pernah menghabiskan waktu malamnya untuk mengulang-ulang bacaan doa Qunut.

Beliau suka menyantuni orang-orang fakir dan para wanita yang tidak mampu. Beliau amat sabar dalam menghadapi pelbagai krisis, beliau tidak pernah menyombongkan diri kepada seorangpun, beliau mau duduk di tempat mana saja tanpa membezakan tempat yang baik atau jelek dan beliau tidak pernah menempatkan dirinya di tempat yang lebih tinggi atau tempat yang menonjol, kalau beliau meninggalkan majlisnya kerana ada hajat, maka ketika beliau kembali ke tempat duduknya dan beliau mendapati tempat duduknya telah diduduki orang lain, maka beliau akan mencari tempat duduk lain. Beliau tidak pernah mendekati kaum penguasa.

Beliau senantiasa mengikut jejak perjalanan para sesepuh beliau yang terdahulu, para tokoh Ba’alwi seperti perjalanan yang ditempuh oleh Sayidina al-Faqih al-Muqaddam Muhammad ibnu Ali Ba’alwi, Syeikh as-Seggaf, Alaidrus, Syeikh Abu Bakar ibnu Salim dan tokoh-tokoh lainnya. Thoriqah mereka lebih mengutamakan menutup diri, tawadhu’, tidak menuruti hawa nafsu, lemah lembut, tidak ingin dikenal apalagi menonjol diri, kerana mereka merasa bahawa diri mereka tidak akan menjadi orang baik kecuali hanya dengan anugerah dan kemurahan Allah. Sifat ini tetap diikuti oleh anak cucu mereka, khususnya para wali yang mempunyai kedudukan, ilmu dan gemar beramal kebajikan dan beribadah.

Pokoknya al-Habib Umar senantiasa mengikuti jejak para sesepuhnya yang sholeh, beliau selalu mengikuti budi pekerti yang mulia seperti budi pekerti Nabi yang pernah disebutkan Allah dalam satu firmannya:

“Dan sesungguhnya engkau di atas budi pekerti yang agung”.

Jika beliau meningkatkan frekuensi ibadahnya yang wajib dan sunnah, maka beliau mengikuti apa yang disebutkan oleh Imam Ghazali di dalam Rub’ul Ibadat di dalam kitab Ihya’. Demikian pula, jika beliau ingin mengikuti sunnah-sunnah dan memperbaiki niat dan motivasi, maka beliau mengikuti apa yang diterangkan oleh Imam Ghazali di dalam Rub’ul Adat di dalam kitab Ihya’. Adapun jika beliau ingin menjauhi budi pekerti dan tindak tanduk yang tidak baik, maka beliau mengikuti apa yang diiterangkan oleh Imam Ghazali di dalam Rub’ul Muhlikat di dalam kitabnya Ihya’. Adapun jika beliau ingin mengikuti akhlak yang diredhai oleh Allah, maka beliau akan mengikuti apa yang diterangkan oleh Imam Ghazali di dalam Rub’ul Munjiyat di dalam kitab Ihya’ dan mencari tambahan keterangan lain dari buku-buku lain.

Beliau senantiasa bergembira dan tersenyum kepada semua kalangan, baik terhadap anak-anak kecil mahupun orang dewasa, sampai setiap orang merasa bahwa dirinya sebagai kaum kerabat beliau. Beliau senantiasa menyambut dengan baik semua orang menurut kebutuhannya masing-masing dan beliau bersabar meskipun menghadapi banyak persoalan dari mereka, semua orang disayangi dan disantuni oleh beliau, beliau suka berwasiat untuk menyenangkan anak-anak kecil, kata beliau: “Kalau engkau tidak dapat menyenangkan anak kecil dengan memberi sesuatu, maka berikan kepada mereka meskipun sebuah batu kerikil berwarna merah, agar mereka bergembira.”.

Beliau suka mengabulkan segala permintaan orang dan suka menanggung kesulitan orang dengan harapan agar dapat menyenangkan keluarga orang yang ditolongnya itu. Adakalanya beliau memaksa diri untuk mendatangi rumah-rumah mereka, sehingga ada dari murid beliau yang mengatakan kepada beliau, bahawa beliau sudah udzur, karena sudah lanjut usia dan hal itu cukup memberatkan tetapi beliau menjawabnya: “Sesungguhnya kami mendatangi rumah-rumah mereka, untuk manfa’at dan maslakhat mereka dan kami berharap dari Allah, agar setiap rumah yang kami masuki Allah akan memberi ampun kepada penghuni rumah tersebut”.

Jika ada dua orang datang ke majlis al-Habib Umar, maka beliau menanya kepada keduanya, siapa di antaranya yang lebih tua, setelah diberitahukan kepada beliau, maka beliau mempersilakan yang lebih tua duduk di sebelah kanan beliau sedang yang lebih muda dipersilakan duduk di sebelah kiri beliau agar beliau dapat menghormati munurut usianya masing-masing, selanjutnya keduanya disenangkan dan digembirakan dengan kegembiraan yang luar biasa, kemudian beliau berbicara dengan keduanya menurut kemampuan berfikir mereka masing-masing. Akhlak beliau yang seperti itu menyebabkan semua orang terpesona kepada beliau dan budi pekerti beliau sering disebut orang.

Al-Habib Umar sering mengunjungi Wadi Amed dan al-Qasar untuk mengajak penduduknya ke jalan Allah dan untuk mempersatukan orang-orang yang bersengketa di antara mereka. Untuk kepentingan yang satu ini, beliau banyak mengorbankan hartanya dan tenaganya. Dan sangat bersabar kepada mereka yang berwatak keras, beliau hampir saja tidak pernah marah, kecuali larangan Allah diremehkan oleh seseorang, jika hal itu terjadi, maka beliau amat marah, sampai dapat dilihat dari wajah beliau.

Al-Habib Umar senantiasa menganjurkan manusia untuk rajin mengerjakan amal-amal ibadah dan menghadiri solat Jum’at dan Jama’ah, beliau selalu menganjurkan perbuatan baik dan melarang perbuatan mungkar. Beliau tidak mau masuk ke dalam rumah yang pemiliknya suka berbuat kemungkaran dan tidak mau menghadiri undangan mereka, samapi mereka mau berubah kebiasaan mereka.

Al-Habib Umar sering mengunjungi Wadi Dou’an, kebiasaan itu beliau lakukan sejak awal dan beliau tidak pernah meninggalkan kebiasaan itu kecuali di akhir hayatnya. Beliau pernah mengunjungi Wadi Dou’an berangkat dari al-Lisk dengan mengenderai unta dan dengan disertai al-Faqih Ahmad ibnu Muhammad Bajamal al-Asbuhi. Dalam satu kunjungannya ke Wadi Dou’an beliau pernah mengunjungi Syeikh Ahmad ibnu Ali ibnu Nu’man al-Hajrain di desa Hajrain, maka Syeikh Ahmad ikut bersama beliau menuju Qaidun untuk berziarah ke makam Syeikh Sa’id ibnu Isa Alamudi.

Dikarenakan banyaknya berpergian dan perjalanan yang ditempuh oleh al-Habib Umar al-Attas untuk berdakwah dan untuk mendamaikan orang, maka beliau berkata: “Sesungguhnya aku di dunia adalah seorang yang asing, maka tidak diwajibkan atasku melakukan solat Jum’at di suatu desa pun. Beliau lebih suka mengenderai keledai di sebagian besar waktunya dan di dalam perjalanannya di tengah hari yang amat panas. Di setiap perjalanannya, beliau selalu membawa kitab ar-Risalah karya Imam al-Qusyairi di satu tangan, sedang di tangan yang lain memegang kitab Al ‘awarifu Al Maarif maupun kitab-kitab yang semacamnya merupakan benteng bagi para tokoh Sufi”.

Al-Habib Umar selalu menghabiskan waktunya untuk muzakarah segala cabang ilmu pengetahuan, untuk keperluan yang satu ini, beliau suka menghabiskan waktu satu malam penuh. Adakalanya tiba waktu fajar, sedangkan beliau masih menerangkan berbagai macam hakikat ketuhanan (Hakaik) kepada murid-murid beliau. Pokoknya tidak satu waktupun beliau lewatkan, kecuali beliau lewatkan dengan ibadah dan menimba ilmu atau mendengar suatu bacaan. Biasanya jika ada sekelompok orang duduk di malam hari bersama beliau, maka beliau melayani mereka, sampai ketika mereka bubar, maka beliau berkata kepada Syeikh Ali Baras: “Wahai Ali, apakah masih ada orang lain selain kita?”. Jika dijawab tidak, maka beliau berkata: “Ambilkan kitab itu, untuk kita baca bersama”.

Al-Habib Umar tidak pernah mengkhususkan membaca atau mengajar suatu kitab tertentu. Al-Habib Hussein bin Umar al-Attas berkata: “Pada suatu hari, aku pergi bersama ayahku, tanganku yang satu memegang tali kendali kenderaan beliau, sedangkan tanganku yang satu memegang sebuah kitab, sedangkan beliau menyampaikan kepada kita berbagai cabang ilmu lewat lisan beliau, hal itu bagaikan sebuah air yang mengalir dengan derasnya. Ketika kami katakan kepada beliau: “Mengapa engkau tidak izinkan kami membaca atau belajar sebuah kitab kepadamu?” Maka beliau berkata: “Terimalah sesukamu ilmu yang sedang mengalir dari satu wadah, meskipun tanpa sebuah kitab”. Beliau berkata kepada seorang guru: “Ajarkan anak-anakku untuk membaca kitab karya tulis Syeikh Abu Amru”.

Al-Habib Umar sangat peduli untuk mengajari saudara-saudaranya yang masih kecil yang ditinggal wafat oleh ayahnya. Di muka telah kami terangkan bahawa al-Habib Umar sangat peduli untuk mengajar dan mendidik saudara-saudaranya yang masih kecil, terutama untuk memahami al-Quran. Beliau menganjurkan mereka untuk gemar mencari ilmu dan menyuruh guru saudara-saudaranya untuk memukul mereka, jika mereka tidak memperhatikan pelajarannya. Bahkan beliau sendiri pernah memukul saudaranya dengan tangannya sendiri, sampai ia berhasil membaca al-Quran dengan baik. Beliau pernah mengirim saudara beliau al-Habib Aqil ke Hajrain untuk belajar dari Syeikh Muhammad ibnu Umar al-Afif, sampai akhirnya al-Habib Aqil mampu mengajar setelah beliau kembali ke desa Huraidzah. Setiap hari al-Habib Umar menghadiri majlis ta’lim al-Habib Aqil sekembalinya dari menziarahi kubur ayahnya.

Ketika al-Faqih Syeikh Abdul Kabir ibnu Abdul Kabir Baqais mengunjungi beliau yang ketika itu beliau masih dalam usia belajar, maka beliau berkata: “Hai, Abdul Kabir nama telah dihidupi, maka hidupkanlah ilmu”. Ucapan beliau menyuruh Abdul Kabir untuk rajin menuntut ilmu. Dengan anjuran beliau, maka Abdul Kabir berhasil menimba ilmu sebanyak-banyaknya sampai beliau disebut al-Faqih. Al-Habib Umar pernah memberitahukan akan lahirnya Syeikh Abdul Kabir yang ketika itu masih di dalam kandungan ibunya, sedang ayahnya meninggal dunia. Ketika keluarganya akan membagi harta waris ayahnya, di saat itu al-Habib Umar berkata: “Sesungguhnya janin yang ada di dalam kandungan ibunya ini adalah anak laki-laki, maka simpanlah bagiannya dari harta warisannya”. Ternyata apa yang dikatakan oleh al-Habib Umar adalah benar.

Al-Habib Umar telah memberi isyarat kepada salah seorang pengikutnya, Muhammad ibnu Hishn al-Huraidzi untuk belajar membaca al-Quran meskipun usianya telah lanjut, dikarenakan telah mendapat barakah dari Habib Umar, maka ia diberi kemudahan oleh Allah. Ada seseorang jika menghadiri majlis ta’limnya al-Habib Umar al-Attas, maka ia banyak berbicara, sehingga majlis beliau terganggu, anehnya jika diadakan pembacaan suatu kitab, maka orang itu mengantuk sampai tidur. Karena itu, jika orang itu hadir, maka al-Habib Umar berkata kepada kawan-kawannya: “Ambilkan kitab dan mari kita membaca kitab itu, agar orang itu diam karena mengantuk”.

Al-Habib Umar pernah menyuruh untuk mengeluarkan zakat kurma (Rutob) sebelum kurma itu menjadi kering. Ketika dikatakan bahawa sebagian ulama mengatakan bahawa tidak sah mengeluarkan zakatnya kurma sebelum kurma itu menjadi kering, maka al-Habib Umar berkata: Mereka itu ulama dan kami pun ulama, tanyakanlah kepada orang-orang miskin, kurma yang masih basah ataukah kurma yang sudah kering yang mereka sukai”. Setelah dijawab, bahwa yang mereka sukaiadalah kurma yang masih basah, maka pendapat al-Habib Umar diterima oleh mereka dan dilaksanakan oleh seluruh penduduk desa itu.

Al-Habib Ali ibnu Hussein al-Attas menyebutkan dalam kitabnya Taajul A’raas juz 1 hal 708, bahawa al-Habib Umar ibnu Abdurrahman al-Attas telah berbeda pendapat dengan ahli Fiqih dalam tiga masalah. Pertama al-Habib Umar berpendapat untuk menaruh jenazah di ujung kepala liang lahad dan jika jenazah sedang diturunkan ke liang lahad hendaknya kedua kakinya diturunkan lebih dahulu. Kedua, al-Habib Umar berpendapat bahawa seseorang tidak harus berniat ketika ia menjadikan tangannya sebagai wadah untuk mengambil air hendak berwudhu (niat Ightiraf) meskipun menurut pendapat ahli Fiqih, orang itu diharuskan berniat kalau tidak maka airnya menjadi musta’mal. Adapun yang dipakai alasan oleh al-Habib Umar, seorang yang mengambil air ketika hendak berwudhu, maka ia tidak mencuci tangannya ke dalam tempat air, kerana itu tidak perlu berniat. Ketiga, al-Habib Umar berpendapat bahawa seseorang dibolehkan mengeluarkan zakatnya kurma ketika buah kurma itu masih basah (rutob), meskipun para ulama tidak membolehkan cara yang demikian itu, alasannya Habib Umar adalah buah kurma yang masih basah lebih disenangi orang-orang miskin, daripada buah kurma yang sudah kering.

Disebutkan juga al-Habib Umar menganjurkan orang melakukan solat Ghaib setelah selesai mengerjakan solat Jum’at. Adapun waktunya adalah setelah imam menutup solatnya dengan salam dan setelah berzikir, maka diumumkan untuk melakukan solat Ghaib bagi mereka yang telah meninggal dari segenap umat Islam. Tradisi macam ini tetap dilakukan penduduk desa Huraidzah dan desa-desa lainnya yang pernah mendengar fatwa al-Habib Umar.

Al-Habib Umar suka mendengar qasidahnya al-Habib Abdullah ibnu Alwi al-Haddad, yang awal mula baitnya adalah:


Jika qasidah ini dikumandangkan oleh seseorang di depan Habib Umar, maka beliau suka menyuruh orang itu untuk mengulanginya, sebab beliau sangat menyayangi dan merasa kagum qasidah itu. Setelah al-Habib Umar wafat, maka al-Habib Abdullah ibnu Alwi al-Haddad menyuruh seseorang untuk berziarah ke makam al-Habib Umar dan menyuruhnya untuk membacakan qasidah yang disebutkan di atas tadi di sisi kubur al-Habib Umar. Ketika orang itu melaksanakan apa yang diperintahkan oleh al-Habib Abdullah ibnu Alwi al-Haddad, maka ia tertidur sejenak, maka tahu-tahu terdapat sepotong roti yang masih hangat di pangkuannya. Ketka ia terbangun ia terkejut dengan adanya dua potong roti dihadapnya, setelah diperiksa di sekelilingnya, ternyata tidak ada seorangpun yang ada didekatnya, sehingga ia yakin bahawa dua potong roti itu adalah karomah dari al-Habib Umar sebagai petanda bahawa qasidah yang dibacanya telah didengar oleh al-Habib Umar dan ziarahnya terkabul. Maka yang sepotong dimakan sedangkan yang sepotong lagi dibagikan kepada anak-anaknya.
Al-Habib Umar dan guru beliau, al-Habib Hussein ibnu Syeikh Abu Bakar ibnu Salim melarang orang untuk menghisap rokok dan mengharamkannya.

Al-Habib Umar suka menyuruh orang untuk memperbaiki cara pengairan sawah ladang. Beliau amat senang dengan orang-orang yang suka mengairi sawah ladangnya dan beliau selalu mendoakan kebajikan bagi mereka, tetapi beliau tidak senang terhadap orang-orang yang malas mengakhiri sawah ladangnya.

Al-Habib Umar selalu menganjurkan orang untuk rajin menanam pohon kurma. Di desa Andal dan al-Qasar banyak menghasilkan buah kurma. dikarenakan seringnya al-Habib Umar menganjurkan orang untuk menanamnya. Biasanya beliau berpesan untuk memberi jarak sepuluh langkah atau lima belas langkah antara satu pohon kurma dengan lainnya.

Banyak hadiah-hadiah yang mengalir kepada al-Habib Umar, tetapi beliau tidak mahu menerimanya, kecuali hanya sebagian kecil daripadanya. Bahkan jika ada seseorang yang nadzar memberi pohon kurma kepada beliau, maka beliau ada kalanya menolaknya. Beliau tidak mahu menerima pemberian seorang penguasapun, kalau ada seorang penguasa memberi hadiah atau bingkisan kepada beliau atau yang ada hubungannya denga penguasa, maka beliau selalu menolaknya dengan cara yang manis dan halus.

Al-Habib Umar selalu pasrah dan redho terhadap apa saja yang dikehendaki oleh Allah. Al-Habib Umar selalu sederhana dalam cara berpakaiannya, makan minumnya dan tempat tinggalnya. Beliau suka memakai pakaian yang kasar berwarna putih, hasil tenunan dalam negeri, bukan buatan dari India. Beliau tidak pernah memakai pakaian yang berwarna hitam, selain ketika putera beliau wafat, tetapi beliau mengenakan juga pakaian putih dan berwarna merah untuk menampakkan beliau tidak susah atas kematian putranya. Ketika ditanyakan, mengapa beliau berpakaian demikian, maka beliau berkata: “Sesungguhnya syaitan menyuruh kami untuk menampakkan rasa susah, tetapi kami menolaknya agar ia menjadi kecewa”.

Biasanya jika al-Habib Umar diberi hadiah sehelai kain halus berwarna putih, maka beliau memakainya sebagai alas duduk di atas kenderaannya sampai kain itu tampak rosak. Biasanya jika beliau diberi hadiah sehelai baju terlalu panjang bagian tangannya, maka beliau memotongnya sampai sebatas telapak tangan. Hal itu adalah dikarenakan beliau meniru jejak hidup Imam Ali ibnu Abi Thalib yang selalu memotong bagian tangannya sampai batas telapak tangan.

Jika al-Habib Umar hendak membangun rumah, maka beliau menyuruh arkiteknya untuk membangunkan kamar mandi di bagian depan rumahnya agar orang-orang yang melihatnya akan mengerti, betapa hinanya kehidupan dunia yang selalu mereka rebutkan itu. ketika arkiteknya telah selesai membangun tembok rumah beliau, maka beliau dipersilakan masuk ke dalam bangunan itu. Setelah beliau mengukur tinggi bangunannya dirasa telah cukup, maka beliau menyuruhnya untuk membangun atapnya. Letak rumah beliau di bagian atas desa. Ketika penduduk desa Huraidzah minta pertimbangan beliau, di manakah rumah beliau harus dibangun, maka beliau menyuruh mereka untuk membangun rumahnya di bagian atas desa itu di dekat rumah Syeikh Salamah ibnu Ali Basahil. Sebab beliau amat erat hubungannya dengan Syeikh Salamah yang dikenal sebagai wali yang wara’, ahli ibadah dan amat dekat hubungannya dengan al-Habib Umar, sehingga al-Habib Umar sering mengunjunginya. Kata al-Habib Umar: “Andaikata aku tidak takut kebakaran, pasti aku lebih senang di sebuah gubug”.

Beliau tidak terlalu memperhatikan masalah makanannya, beliau mau makan apa saja yang didapatnya dengan mudah, tidak jarang beliau menahan lapar jika tidak ada rezeki yang dimakannya. Disebutkan bahawa pada suatu malam isteri Hussein menantu beliau tidak menyediakan makan malam bagi al-Habib Umar, sebab ia mengira bahawa al-Habib Umar sudah makan malam di rumah Salim, puteranya. Demikian juga isteri Salim tidak menyiapkan makan malam bagi al-Habib Umar, sebab ia mengira bahawa al-Habib Umar telah makan di rumah Hussein. Kebetulan malam itu pembantunya keluar dengan membawa sepotong roti untuk makan sapinya, maka beliau mengambil sebagian seraya berkata: “Ini adalah makan malamku”. Al-Habib Umar hanya berkata: “Kurma dan mentimun yang halal lebih baik dari bubur kambing (harisah) yang subhat”.

Pada suatu hari ketika beliau berkunjung ke Wadi ‘Amed, maka beliau singgah di rumah salah seorang pengikutnya yang ada di desa itu. Penduduk desa itu senang menerima kehadiran al-Habib Umar, sehingga mereka membikin bubur asidah bagi beliau. Ketika penduduk desa itu masih sibuk membuat bubur asidah, salah seorang puteri dari mereka datang dengan membawa sepiring makanan bagi beliau, beliau hanya menyuapnya sedikit. Tidak lama setelah bubur asidah yang dipersiapkan penduduk desa itu telah selesai, maka mereka menghidangkannya ke hadapan al-Habib Umar, tetapi beliau tidak menyuapkan sedikitpun dari bubur asidah itu, sehingga mereka minta beliau untuk mencicipinya, tetapi beliau menolaknya dengan halus, seraya berkata: “Ada seorang puteri telah membawakan makanan buah bidara cina bagiku, aku telah memakannya sedikit dan hal itu aku telah rasa cukup”. Kisah ini merupakan salah satu bukti dari kesederhanaan al-Habib Umar dalam hal makanan.

Sifat postur tubuh al-Habib Umar al-Attas

Al-Habib Ali ibnu Hassan al-Attas pernah menyebutkan dari al-Habib Abu Bakar ibnu Muhammad Bafaqih, Shahib Qoidun, tentang sifat diri al-Habib Umar sebagai berikut: “Tubuh al-Habib Umar berperawakan sedang, wajahnya tampan, janggutnya lebar, jika seorang melihat beliau, maka akan melihat kewibawaan beliau dan tercium bau harum dari beliau”.

Al-Habib Umar gemar memakai parfum. Kata beliau: “Dari besarnya kesukaannya kepada parfum, maka aku ingin dihadirkan sebuah bejana yang berisi parfum, kemudian aku akan memakainya semua”. Dikarenakan besarnya kegemaran beliau mamakai parfum, maka keringat beliau tercium bau harum.

Pada lambung kiri al-Habib Umar ada warna hitam sebentuk cincin.